Tahun 2024, Seluruh Alutsista TNI Terpenuhi

SURABAYA – Pemerintah saat ini tengah memacu kekuatan TNI dengan pemenuhan secara bertahap kebutuhan Alat Utama Sistem Senjata (alutsista). Pemenuhan tersebut dilakukan dengan berbagai cara baik melalui pembangunan di dalam negeri, luar negeri, maupun join production. Demikian disampaikan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro saat menghadiri serah terima KRI Banda Aceh dari PT PAL pada TNI AL, di Surabaya, Senin (21/3).

“Kita memang terus melakukan pembangunan alutsista TNI baik di matra darat, laut dan udara. Cita-cita kita pada tahun 2024 telah tercapai kekuatan pokok TNI,” ujarnya.

Ia menambahkan, selanjutnya PT PAL akan memfokuskan pemenuhan alutsista yang lebih mutakhir bagi TNI AL melalui proyek Kapal PKR (Perusak Kapal Rudal).

“Pemerintah sudah menyetujui, anggarannya sudah ada, dan sedang dijalankan,” paparnya.

Sementara terkait PKR, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengatakan, teknis pelaksanaan proyek ini dikerjakan oleh PT PAL dengan TNI AL sebagai project officer-nya.

“PKR sudah dimulai diskusi teknisnya, mudah-mudahan bulan depan rancang bangunnya bisa dimulai bekerjasama dengan Damen Shipyard dari Belanda,” ujarnya.

Menurutnya, proyek PKR dalam pengerjaannya akan lebih kompleks mengingat tuntutan kemampuan yang harus dimiliki kapal tersebut nantinya.

“Kita akan membangun PKR jenis light fregat yang harus memiliki kemampuan persenjataan dan kemampuan content management system lebih dibanding kapal lainnya. Desain baling-balingnya harus sedemikian rupa agar noise bawah airnya rendah karena nantinya selian untuk menghadapi perang di atas permukaan, juga untuk perang anti kapal selam,” terangnya.

Melihat dari rumit dan kemampuan PKR ini nantinya, Agus mengatakan, proyek tersebut merupakan peningkatan yang luar biasa dalam kemampuan rancang bangun alutsista bangsa Indonesia.

“Kalau nanti sudah bisa membuat PKR ini, membangun kapal apa saja kita akan bisa,” ungkapnya.

Sedangkan, kebutuhan kapal selam, Menhan menambahkan TNI AL tengah mengkaji jenis yang sesuai dengan kebutuhan negara kita.“Pemenuhannya tidak bisa terburu-buru. Sedang dipelajari seperti apa yang benar-benar pas dengan kondisi geografis laut kita. Di perairan bagian barat dangkal dan di bagian timur dalam, semua akan mempengaruhi sepeti apa jenisnya nanti. Tentu kita akan senang bila nanti juga bisa dibangun di dalam negeri. Tetapi tentunya akan dilakukan bertahap dengan joint production juga. Awalnya bisa diluar, lalu produksi yang berikutnya, ditingkatkan konten lokalnya dan dilakukan di sini,” paparnya. (ut/ara)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *