Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Suta Samakan KGP dengan Samanhudi

14 May 2017 // 17:26 // HEADLINE, HUKUM, HUKUM & KRIMINALITAS

gendeng

JAKARTA (suarakawan.com) – Kuasa Hukum Ki Gendeng Pamungkas, biasa disingkat KGP, Juju Purwantoro SH MH menolak kliennya dikatakan rasis. Menurut Juju melihat seseorang tidak bisa dilihat hanya pada video dan tulisannya. Tapi, sejauh mana mengeksplorasi di kehidupan sehari-hari.

“Inti perlawanan yang dilakukan oleh KGP selama bertahun-tahun adalah melakukan kritisi introspeksi kepada rezim Pemerintahan yang tengah berlangsung agar bisa mengurangi penguasaan modal dan ekonomi oleh segelintir atau sekelompok kecil keturunan Cina, sehingga tidak terjadi monopoli kekuasaan ekonomi oleh kelompok Cina saja. Meski dilakukan dengan gaya-gayanya yang nyentrik,” terangnya.

“Melihat KGP terus menerus berjuang. Harus ada political will
Pemerintah hendaknya melakukan distribusi kekuatan ekonomi masyarakat yang adil (fairness) dan merata bagi masyarakat Indonesia. KGP sangat berharap agar Jurang perbedaan antara kelompok Cina yang kaya raya dengan mayoritas masyarakat miskin bisa dikurangi secara maksimal. Sikap inilah yang harus kita pahami dan harus didukung oleh mayoritas umat. Banyak pihak yang selama ini hanya menilai stigma KGP dari sisi negatifnya saja. Tapi, semuanya tidak ada bukti hukum bahwa KGP telah melakukan kejahatan/ tindak Pidana,” jelasnya lagi.

Sejalan dengan Juju, anggota Tim Bantuan KGP lainnya, Suta Widhya SH pada Minggu (14/5) di Jakarta, melihat dari sisi sosio historik. Ia menilai KGP mirip dengan sosok Samanhudi atau sering disebut Kyai Haji Samanhudi (lahir di Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, 1868; meninggal di Klaten, Jawa Tengah, 28 Desember 1956).

“Tokoh satu ini adalah pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI), sebuah organisasi massa di Indonesia yang awalnya merupakan wadah bagi para pengusaha batik di Surakarta. Nama kecilnya ialah Sudarno Nadi,” ujar Suta.

Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Tionghoa pada tahun 1905. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1905, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya.

“Memang KGP melawan ketimpangan tidak lewat dagang, namun kaos, stiker, topi, pim, pagelaran musik cadas (under ground) dan lainnya sebagai alat kampanye dalam menyampaikan kritik sosial mulai dari basmi koruptor sampai fight against Cina,” tukas Suta.

“Ini jelas gerakan ideologis, bukan premanisme, kriminal, atau pidana biasa sebagaimana yang disangkakan oleh polisi,” Suta Widhya menutup penjelasannya. (hans/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini