Sudarwati Rorong: Dari Guru Ke Legislator

sudarwati rorong

SURABAYA (suarakawan.com) – Di kawasan lokalisasi Kremil, siapa yang tak mengenal Sudarwati Rorong. Sosoknya sudah sangat familiar di berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, perempuan penjaja cinta, sampai para mucikari, hingga preman di salah satu ‘kawasan merah’ Kota Surabaya itu.

Sebaliknya, Kremil bukan kawasan asing buat kawan kita kali ini yaitu Sudarwati. Ketika resmi menikah dengan Willem Matius Rorong pada 1979, dia sah menjadi penduduk kawasan lokalisasi itu hingga sekarang. Sejak itu, Sudarwati terlihat selalu hadir ketika ada aksi sosial di kampungnya.

Dari sana juga, Sudarwati yang memulai karir sebagai guru SD pada 1982 itu, membangun citranya sebagai politisi yang merakyat.

“Dari kondisi yang saya alami di lingkungan tempat tinggal saya, mereka yang dinilai sebagai ‘sampah masyarakat’ itu butuh sentuhan dengan kasih sayang. Jangan mereka dijauhi atau makin dicibirkan karena justru tak akan membangkitkan kepercayaan diri mereka untuk lepas dari masalah yang membelit,” paparnya panjang lebar.

Sekadar diketahui, Sudarwati menjadi calon anggota legislatif DPRD Surabaya dari Partai Damai Sejahtera untuk Daerah Pemilihan I (Krembangan, Simokerto, Bubutan, Genteng, Gubeng, Tegalsari). Suara terbesar diperoleh dari wilayah Krembangan.

“Kebetulan sesuai mandat dan amanah dari para pemilih saya, yaitu mereka yang mayoritas berasal dari kaum papa dan minoritas, utamanya yang berada di lokalisasi Kremil. Merekalah yang memberikan kepercayaannya kepada saya, sehingga saya berhasil duduk di dewan kali ini. Karena itu, saya tidak akan melupakan mereka. Tapi sebagai anggota dewan, perjuangan saya juga untuk rakyat secara keseluruhan,” paparnya.

Ketika ditanyakan komisi yang menjadi pilihannya, Sudarwati secara tegas ingin duduk di Komisi D. “Katanya bukan komisi basah. Buat saya tak ada istilah itu. Sebagai pendidik, saya ingin bekerja sesuai bidang yang saya kuasai. Banyak masalah pendidikan yang harus dibenahi selain masalah sosial dan budaya yang ditangani di Komisi D,” ujarnya.

Sejak tahun 1982, Sudarwati telah menjadi guru SD. Profesi itu masih ditekuninya sampai sekarang. Itu sebabnya, soal seluk beluk pendidikan, Sudarwati sangat memahaminya. Dia tahu dan mengalami sendiri permasalahan-permasalahan pendidikan di Surabaya.

Salah satu problem riil pendidikan yang dia ingin selesaikan adalah tentang sertifikasi guru. Selama ini, pemerintah kurang memberi perhatian terhadap percepatan sertifikasi guru swasta. Perhatian pemerintah hanya terfokus pada guru negeri. “Sebagai guru di sekolah swasta, saya melihat kesenjangan kesejahteraan guru swasta (yang menengah ke bawah) dan guru negeri,” katanya.(nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *