Sneaker Madness, Ajang Berburu Sneaker Limited Edition

IMG_20171014_124502

SURABAYA (suarakawan.com) – Sepatu sneakers tengah naik daun. Jenis alas kaki yang mengadaptasi model sepatu olahraga tersebut menjadi fashion item wajib punya, khususnya di kalangan generasi muda.

Di Indonesia, tren sneakers dimulai sejak 2010 dan menjadi booming pada 2013-2014, tepatnya saat Nike mengeluarkan seri Nike Air Yeezy. Banyaknya sneakershead –sebutan kolektor sneakers- yang menjadi penggemar pebasket Michael Jordan, turut mendongkrak citra sepatu ini. Kegilaan para sneakershead dalam berburu sepatu dapat dilihat dalam ajang Sneaker Madness, yang digelar di Tunjungan Plaza Surabaya, Sabtu (14/10) dan Minggu (15/10).

Digelar untuk pertama kalinya di Surabaya, Sneaker Madness menghadirkan 40an tenant dari berbagai kota besar di Indonesia seperti Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Malang.

“Para pecinta sneakers di Surabaya sangatlah besar. Untuk itu, melalui acara ini kami berusaha mengenalkan culture sneakers terbaru, terlebih masyarakat pecinta sneakers di Indonesia dapat dikatakan masih early adapter,” ujar Rosyidan Director Mainbasket Magazine sekaligus Coordinator Event, Sabtu (14/10).

Dari 40 tenant yang berpartisipasi di acara ini, mereka membawa aneka koleksi sepatu limited edition yang diperoleh dari secondary market.

“Yang dimaksud secondary market bukan berarti sepatu bekas. Mereka membeli sepatu tertentu dengan harapan harganya naik berlipat-lipat di masa mendatang. Jadi ini investasinya dalam bentuk sepatu,” jelasnya.

Dia mencontohkan sepatu Yeezy by Kanye West bisa dibandrol dengan harga Rp30 juta hingga Rp90 juta. Adidas Hyper Adapt bahkan dilego dengan harga Rp23 juta per pasang. Padahal, harga retail lebih murah.

“Hal ini karena sepatu itu diproduksi terbatas dan ada faktor kolaborasi di belakang sepatu merk tertentu. Ini yang membuat harganya mahal,” katanya.

Semakin langka barangnya, lanjutnya, makin banyak kolektor yang memburunya. Diakui Rosyid, di Surabaya sendiri juga mulai muncul tren investasi di sepatu.

“Meski belum banyak, tapi tren seperti itu sudah ada di Surabaya,” tegasnya.(ris/rur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *