Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Seruan ‘Boikot Starbucks’ Bergema di Indonesia dan Malaysia

04 Jul 2017 // 16:04 // HEADLINE, INTERNASIONAL, PERISTIWA

_96772806_136ca955-476a-439b-80de-7141e443af68

JAKARTA (suarakawan.com) – Seruan boikot Starbucks di Indonesia ramai dibincangkan di media sosial sejak akhir pekan lalu karena dukungan gerai kopi itu terhadap LGBT dianggap bisa merusak nilai budaya dan agama di Indonesia.

Seruan itu dalam beberapa laporan bahkan juga ikut bergaung di Malaysia.
Tapi mengapa seruan boikot baru muncul sekarang? Padahal dukungan Starbucks terhadap LGBT sudah dinyatakan bertahun-tahun lalu.

Dari mana seruan boikot muncul?

Di Twitter, kemunculan tagar ‘boikot Starbucks’ ini diawali Kamis pekan lalu, namun baru menjadi perbincangan luas pada Jumat (30/6). Sejumlah orang mentautkan berita tentang seruan pemboikotan oleh beberapa pihak di antaranya Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris dan PP Muhammadiyah.

Anwar Abbas dari Muhamadiyah mengatakan pemerintah harus menarik izin operasi Starbucks karena dukungan mereka terhadap LGBT tidak sesuai dengan ‘ideologi negara’. “Jika Starbucks hanya berbisnis, tidak masalah. Tapi jangan membawa ideologi ke sini,” katanya seperti dikutip kantor berita Reuters.

Tagar ‘Boikot Starbucks’ hingga kini sudah dipakai lebih dari 25.000 kali dipenuhi dengan debat antara kubu yang setuju boikot dengan yang tidak. “Sudah terang-benderang. Ngopi di Setarbak, langsung atau tidak langsung = dukung LGBT,” kata satu pengguna Twitter.

Lainnya menantang, “by the way, Mark Zuckerberg juga terang-terangan dukung LGBT loh. Jadi kapan boikot FB juga. Ingin tahu pada munafik enggak nih.”

Mengapa baru sekarang minta diboikot?
Sikap Starbucks untuk merangkul kaum LGBT sebetulnya bukan hal baru. Namun kepada Reuters, Anwar Abbas mengaku mendapat informasi baru-baru ini dari grup chat tentang komentar Senior Eksekutif Howard Schultz yang pro-LGBT.

Pada tahun 2013, ketika pemegang saham mengeluh bahwa perusahaan kehilangan konsumen karena dukungan mereka pada LGBT, Schultz mengatakan bahwa pihaknya merangkul keberagaman dan “setiap keputusan tidak melulu berdasarkan pertimbangan ekonomi.”

“Jika Anda merasa Anda bisa mendapat keuntungan lebih dari 38% dari apa yang Anda dapat tahun lalu, ini adalah negara bebas. Anda dapat menjual saham Anda di Starbucks dan membeli saham di perusahaan lain,” katanya seperti dikutip oleh Forbes.

Apa reaksi Starbucks Indonesia?

PT Sari Coffee Indonesia, yang memegang lisensi Starbucks, menyatakan pihaknya “selalu mematuhi peraturan yang berlaku dan menghargai nilai-nilai budaya di Indonesia.”

“Kami juga menghargai latar belakang religius para pelanggan dan karyawan kami,” kata Fetty Kwartati, seorang direktur di PT MAP Boga Adiperkasa Tbk, perusahaan induk Sari Coffee Indonesia.

Seberapa besar gaungnya?

Percakapan tentang pemboikotan Starbucks di Twitter sudah agak meredup hari ini, Senin (3/7). Namun sejumlah laporan menyebut bahwa seruan itu ikut bergema di Malaysia – di antaranya disuarakan oleh organisasi Pribumi Perkasa Malaysia.

Perkasa mendesak umat Islam di negara ini untuk memboikot Starbucks karena jaringan kopi internasional yang berbasis di Amerika Serikat ini mendukung LGBT dan pernikahan sesama jenis,” kata kepala biro urusan Islam kelompok Amini, Amir Abdullah, sebagaimana dikutip Malaysiakini, Minggu (2/7).

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini