Sembilan Bulan Rasmini Disiksa Ditaburi Merica Dan Minum Pemutih

Rusmini TKI Korban Kekerasan

SURABAYA (suarakawan.com) Sebelum genap seminggu  disahkannya moratorium dan dan satgas TKI sejak jumat 1 juli 2011 masih banyak penyiksaan terhadap para TKI Indonesia salah satunya dialami oleh Rusmini 33 TKI yang beralamat sidorjo mendapatkan penyiksaan selama 9 bulan oleh majikannya di Hongkong yaitu dengan meminum bayclin dan matanya ditaburi oleh merica.

Rasmini saat ditemui di kantor Migrant Institute, Rabu (07/07) menjelaskan, dirinya bekerja menjadi PRT selama 9 bulan di rumah majikannya bernama Yiu Sim Mei yang beralamat Flata 1/F1 Fire service Married QTR Suiwend RD Chaiwan Hongkong.
“Saat bekerja di sana, saya tidak boleh keluar rumah sama sekali. Gaji saya seharusnya 3.580 dollar Hongkong, hanya diberi 2.200 dollar Hongkong. Gaji itu pun selama 7 bulan habis langsung disetor ke agen,” tuturnya.
Rusmini mengalami depresi berat selama bekerja di Hongkong dan mengkonsumsi obat anti depresi setiap harinya. Dalam pelariannya dari rumah majikan, dia ditemukan oleh seorang TKW dalam keadaan hampir pingsan di stasiun MTR (kereta bawah tanah). Rusmini kemudian ditampung di shelter Iqro Migrant Institute Hongkong.
“Saya dibawa ke RS untuk berobat selama sebulan. Pihak KJRI Hongkong membelikan tiket pesawat dan memberi uang 4000 dollar Hongkong, tapi saya tolak. Saya ingin menuntut hak-hak yang tidak diberi majikan,” ujarnya
KJRI di Hongkong tidak memenuhi keinginan Rusmini dan tetap menyuruhnya pulang ke Tanah Air. Rusmini akhirnya kembali minta perlindungan Migrant Institute Hongkong dan berhasil memenangkan gugatan perkaranya melawan mantan majikannya. Majikannya memberi 17.000 dollar Hongkong (1 dollar Hongkong sekitar Rp 1.100-1.200). Dia akhirnya kembali ke Tanah Air pada Rabu (6/7). “ Saya melarikan diri ketika saya meminta ijin ke majikan untuk berobat ke rumah sakit,” terangnya.
Ketika ditanyai alasan menjadi TKI ia mengatakan pihaknya pada waktu itu sedang terlibat hutang dengan seorang renternir lalu pihaknya berangkat ke luarnegeri ingin mengadu nasib yang lebih baik. “Namun bukan mendapat nasib baik malah saya mendapat perlakuan yang buruk, saya kapok mas,” tuturnya.
Ali yasin menambahkan selama 9 bulan di Hongkong ini berangkat secara legal melalui PPTKIS (PT Bama Mapan Bahagia Lakarsantri Surabaya). (aca/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *