Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Sejumlah Gereja Mundurkan Jadwal Ibadah Demi Shalat Ied

24 Jun 2017 // 22:00 // HEADLINE, KERUKUNAN, RELIGI

_96557358_img_20150717_064959

JAKARTA (suarakawan.com) – Berbagai gereja di Indonesia, dari Jakarta hingga Kota Malang, Jawa Timur, mengundurkan jadwal misa dan kebaktian ‘demi mendukung umat Muslim’ menunaikan ibadah salat Ied pada Minggu (25/6) mendatang.

Di Kota Malang, Jawa Timur, Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel mengundurkan jadwal kebaktian pukul 08.00 WIB menjadi pukul 09.00 WIB.

Ketua majelis jemaat GPIB Immanuel Malang, Pendeta Richard Agung Sutjahjono, mengatakan keputusan ini diambil untuk mengakomodasi jamaah Masjid Agung Jami’ Kota Malang yang menunaikan salat Idul Fitri atau salat Ied.

Para jemaat gereja pun telah diberitahu melalui warta jemaat, sebuah buletin yang menjadi wahana komunikasi antara majelis gereja dengan jemaat. “Diumumkan dua kali di warta jemaat,” kata Pendeta Richard kepada wartawan di Malang, Eko Widianto.

Sebelumnya, Pendeta Richard menerima sepucuk surat dari takmir Masjid Agung Jami’ tertanggal 12 Juni 2017. Surat ditandatangani Ketua Takmir Kiai Haji Zainuddin A. Muchit dan Sekretaris Takmir Mochamad Effendi.

Dalam surat itu, takmir menginformasikan mengenai salat Idul Fitri yang dilaksanakan di Masjid Agung Jami’. Namun, menurut Zainuddin, masjid tak bisa menampung seluruh jamaah. Tahun lalu, sebagian jemaah menggelar sajadah di jalan raya dan kawasan sekitar Alun-Alun Kota Malang.

Menanggapi informasi itu, Pendeta Richard mengatakan “sekeliling gereja dapat dimanfaatkan oleh umat yang salat Ied menyambut Idul Fitri”.

Menurutnya, sikap toleransi ini terjalin sejak jaman penjajahan Belanda. Saat itu, gereja dibangun pada 1861, sedangkan masjid dibangun pada 1874 dan mengalami perluasan pada 1902.

“Toleransi terjalin sejak jaman kolonial Belanda,” ujarnya.

Kiai Haji Zainuddin A Muchit mengamini adanya toleransi antara umat kedua tempat ibadah. “Selama bertetangga hubungannya baik, tak ada gesekan,” tegasnya.

Sementara itu di Kota Solo, Jawa Tengah, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan meniadakan jadwal kebaktian pagi pukul 06.30 WIB untuk memberi kesempatan jemaah Masjid Al Hikmah menunaikan salat Idul Fitri pada Minggu (25/6).

Bangunan GKJ Joyodiningratan dan Masjid Al Hikmah berbagi tembok. Alamat dua tempat ibadah itu juga cukup unik karena sama-sama berada di Jalan Gatot Subroto Nomor 222, Serengan, Solo.

“Ini sebagai bentuk kita saling menghargai dan toleransi karena jalan di depan gereja digunakan untuk Salat Ied,” jelas Pendeta GKJ Joyodiningratan, Nunung Istining Hyang, kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq.

Nunung menjelaskan jika kebaktian tetap digelar saat pelaksanaan Salat Ied dikhawatirkan akan mengganggu kekhusyukan jemaah muslim dalam beribadah.

Ketua Takmir Masjid Al Hikmah, H Muhamad Nasir Abu Bakar mengakui toleransi antara umat dan pengurus kedua tempat ibadah sudah terjadi sejak masjid dan gereja ini berdiri berdampingan.

“Dari dulu hingga sekarang tidak ada masalah. Insya Allah sampai kami mati pun tidak ada masalah dalam hal kehidupan bertoleransi di sini,” ucapnya.

H Muhamad Nasir Abu Bakar mengatakan gereja dan masjid memang kerap saling mencocokkan jadwal ibadah satu sama lain. Dia mencontohkan jadwal pengajian Maulid Nabi pada 2015 dimajukan agar jemaat gereja bisa menggelar ibadah malam Natal pada 24 Desember.

“Kita tahu bahwa tanggal 24 pasti ada ibadat malam Natal, maka kita memajukan pengajian Maulid Nabi,” kata Nasir.

Begitu pula setiap Natal, pihak takmir masjid menghormati umat Kristiani yang sedang menggelar kebaktian Natal, dengan tidak mengeraskan volume saat azan berkumandang. Tak hanya itu, durasi waktu azan juga diperpendek.

“Kalau hari biasa, volume pengeras suara azan cukup keras dan azannya pun panjang. Tapi saat ada Natal dikurangi volumenya biar tidak mengganggu umat Kristiani yang sedang melaksanakan kebaktian Natal,” papar Nasir.

Toleransi antara umat dan pengurus dua tempat ibadah ini sudah terjadi puluhan tahun. Dilihat dari sejarahnya, gereja dibangun 1939. Lalu pada 1947, dibangun musala di sebelah gereja yang pada akhirnya berubah menjadi masjid. Sebagai penanda kerukunan dua agama didirikan prasasti Tugu Lilin di sebelah selatan masjid.

Di Jakarta, pengurus Gereja Katedral telah mengumumkan penyesuaian jadwal misa mengingat halaman gereja akan dipakai “untuk mendukung terlaksananya kegiatan saudara kita kaum muslim jemaah Masjid Istiqlal untuk menunaikan salat Idul Fitri”.

Pada laman Facebook milik Keuskupan Agung Jakarta, pengumuman penyesuaian jadwal itu diunggah dan menuai beragam komentar positif.

Nadine, salah seorang pengguna media sosial tersebut, menulis, “Semoga Tuhan membalas kebaikan anda semua atas pengertian dan sikap toleransi antar umat. Semoga kita semua diberkati kedamaian dan tetap 1 menjaga kerukunan walaupun kita berbeda”.

Ada pula Yulia Dewi Rakhmawati yang menulis, “Makasih yaa atas pengertianya di agamamu kami orang islam suka senang s’x (sekali) toleransi saling menghormati beragama yg (yang) ada di indonesia ttp (tetap) rukun yaa.” (bbc/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini