Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Riset: Anak Pertama Berpeluang Besar untuk Sukses

30 Jun 2017 // 12:52 // FAMILY, HEADLINE

susui-bayi_20150618_155404

JAKARTA (suarakawan.com) – Persaingan antar saudara bukan hal yang aneh dalam sebuah keluarga. Bahkan studi baru menyataksn jika saudara lebih tua memiliki peluang untuk sukses lebih besar.

Anak laki-laki yang lahir pertama memiliki 24 persen lebih mungkin bekerja di posisi puncak, seperti CEO dan eksekutif, daripada saudara kandung kedua. Persentase bertambah menjad 28 persen jika dibandingikan dengan anak ketiga.

Kenapa bisa seperti itu? Penelitian oleh IZA Institute of Labor Economics mengungkapkan jika anak yang lahir kemudian, di sisi lain, lebih cenderung menjadi wiraswasta.

Makalah tersebut menyatakan pria yang lahir lebih lebih dulu juga lebih stabil secara emosional. Mereka dapat bersikap terbuka dan bersedia bertanggung jawab daripada saudara mereka yang lebih muda.

Peneneliti juga menemukan anak sulung lebih cenderung berada dalam karir yang bergantung pada ciri kepribadian “Lima Besar”, yaitu kesadaran, kesesuaian, stabilitas emosional, ekstraversi, dan keterbukaan. Hal itu terbangun sebab pola pengasuhan pada anak pertama.

Anak pertama, menurut peneliti, lebih suka membaca buku dan menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaan rumah mereka, sebab orang tua cenderung mendiskusikan pekerjaan sekolah dengan anak yang baru lahir. Para periset mengatakan hasilnya menunjukkan bahwa orang tua kurang menaruh investasi dan perhatian pada anak-anak mereka yang lebih muda. (rol/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini