Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Ribuan Desa di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara Alami Kekeringan

09 Sep 2017 // 08:21 // DAERAH, HEADLINE, PERISTIWA

kekeringan

JAKARTA (suarakawan.com) – Berdasarkan data sementara yang dihimpun Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ribuan desa di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara mengalami krisis air.

Setidaknya, terdapat sekitar 105 kabupaten/kota, 715 kecamatan, dan 2.726 kelurahan/desa yang mengalami kekeringan di Jawa dan Nusa Tenggara.

“Meskipun musim kemarau normal pada periode 2017 ini, namun telah memberikan menyebabkan kekeringan dan krisis air di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara,” ujar Kepala Pusat data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, melalui keterangan tertulis.

Akibat krisis air tersebut, menurut Sutopo, sekitar 3,9 juta jiwa masyarakat terkena dampak dan segera memerlukan bantuan air bersih.

Kekeringan juga berdampak pada 56.334 hektar lahan pertanian dan 18.516 hektar lahan gagal panen.

Sutopo mengatakan, sebagian besar daerah-daerah yang dilanda kekeringan adalah daerah-daerah yang pada tahun-tahun sebelumnya juga mengalami kekeringan.

Masih tingginya kerusakan lingkungan dan daerah aliran sungai menyebabkan sumber air mengering.

Pasokan air di sungai menyusut drastis selama musim kemarau.

Di sisi lain, kebutuhan air terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak. Sedangkan untuk mandi dan cuci warga harus memanfaatkan sumber-sumber mata air dari sungai atau embung-embung.

“Upaya yang dilakukan untuk jangka pendek adalah bantuan dropping air bersih melalui tangki air. BPBD Bersama SKPD, relawan dan dunia usaha telah menyalurkan jutaan liter air bersih kepada masyarakat. Beberapa daerah dijadual untuk pengiriman bantuan air bersih karena keterbatasan mobil tangki air,” kata Sutopo.

Sutopo menjelaskan, upaya mengatasi kekeringan sudah dilakukan setiap tahun, tetapi belum cukup.

Pembangunan sumur bor, pembangunan perpipaan, pemanenan hujan, pembangunan embung, bendung dan waduk masih terus dilakukan ke depan.

Diperkirakan, kekeringan masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2017 mendatang.

BMKG telah merilis bahwa sebagian besar Pulau Jawa saat ini sedang mengalami puncak musim kemarau, dan akan masuk awal musim hujan pada Oktober-November 2017.

Sebaran wilayah

Berdasarkan sebaran wilayahnya, kekeringan di Jawa Tengah melanda 1.254 desa yang tersebar di 275 kecamatan dan 30 kabupaten/kota.

Sebanyak 1,41 juta jiwa atau 404.212 kepala keluarga (KK) mengalami dampak kekeringan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengeluarkan status siaga darurat kekeringan hingga Oktober 2017.

Di Jawa Barat, kekeringan melanda 496 desa di 176 kecamatan dan 27 kabupaten/kota. Sebanyak 936.328 jiwa terkena dampak.

Delapan kepala daerah kabupaten/kota telah mengeluarkan status siaga darurat kekeringan yaitu Kabupaten Ciamis, Cianjur, Indramayu, Karawang, Kuningan, Sukabumi, Kota Banjar, dan Kota Tasikmalaya.

Di Provinsi DI Yogyakarta, kekeringan melanda di 10 kecamatan di Kabupaten Kulon Progo dan berdampak pada 12.721 Jiwa.

Demikian pula di Jawa Timur. Kekeringan melanda 588 desa di 171 kecamatan dan 23 kabupaten/kota.

Di Nusa Tenggara Barat, kekeringan melanda 318 desa di 71 kecamatan yang tersebar di sembilan kabupaten meliputi Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, Bima dan Kota Bima.

Sebanyak 640.048 jiwa atau 127.940 KK masyarakat terdampak kekeringan. Sedangkan di sembilan kabupaten di Provinsi Kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan mengalami darurat kekeringan.

Hal itu karena sumber-sumber mata air mulai mengering.

Sembilan kabupaten yang melaporkan darurat kekeringan itu adalah Flores Timur, Rote Ndao, Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Sabu Raijua.

“Penyaluran air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan kekeringan dan dampaknya di Provinsi Banten, dan Bali masih dilakukan pendataan,” kata Sutopo. (kc/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini