Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Riau Bukan Milik Pemerintah Republik Indonesia (2)

12 Jun 2017 // 03:48 // OPINI, SUARA PEMBACA

asap

SILAHKAN MEMBENCI SAYA, TAPI SAYA TIDAK AKAN DIAM…!!!”

Saya lahir dan besar di Riau. Rumah orang tua hanya berjarak 10 Km dari Plywood Siak Raya Timber, yang mengambil kayu-kayu hutan kami, dan tahun 1992 saya dan adik-adik masih belajar pakai lampu minyak. Kami hidup di bawah garis kemiskinan, meski setiap hari kami melihat kayu-kayu besar tak bisa dipeluk, melewati sungai Siak. Kami miskin di Negeri yang katanya kaya raya.

Beranjak remaja, saya dan keluarga, harus merasakan siksa asap. Otak saya yang masih anak Tsanawiyah di Pesantren Pekanbaru, bertanya-tanya “Mengapa harus libur di hari sekolah? saya ingin belajar Ustazah…”. Tapi Ustazah saya bilang “Pulanglah, asapnya terlalu tebal”.

Waktu itu saya dan abang sulung pulang dari Pekanbaru ke Siak naik bus. Sepanjang jalan hanya ada asap dan asap yang telah merenggut hak saya untuk sekolah. Kami disuruh pulang, mungkin alasannya “Kalo mati termengap karna asap, matilah sama-sama di tengah keluarga”. Kami sekeluarga sungguh tersiksa.

Ketika dewasa, saya memilih berprofesi sebagai jurnalis. Saya mencintai profesi ini dgn segenap jiwa raga saya. Selalu ada kepuasaan batin tidak terkira saat menjalankan tugas, dan guru jurnalistik saya berpesan “Tulislah dan sampaikan; apa yang kamu dengar, lihat dan hatimu yakini kebenarannya,”.

Jika sekarang saya berdiri bersama Menteri LHK, dan harus menerima banyak pro dan kontra, bahkan kehilangan respect beberapa sahabat yg saya sayangi, saya ikhlas. Karena hati yakin, bahwa saya berpihak pada yang ‘lumayan’ benar. Tidak mau saya kasi label ‘sangat’ benar, karena saya punya penyakit curigaan dan paling sulit percaya orang.

Jika ada yang mengatakan saya membela yang bayar, maka logika sederhananya begini saja:

Semua keluarga saya ada di Riau. Seumur hidup mungkin hingga mati akan ada di Provinsi ini. Lalu apa untungnya membuka konfrontasi dengan para penguasa di Negeri ini? apa untungnya buat saya secara sosial dan ekonomi?

Sementara jabatan Menteri hanyalah jabatan politis. Si Menteri itu juga bukan siapa-siapa saya. Bukan sodara. Suatu ketika ia tak akan menjadi Menteri lagi, dan kami belum tentu akan saling bertemu seperti sekarang. Ini hanya pertemanan sesaat.

Tapi saya lebih baik membela yang sesaat tapi berada di jalan yang saya yakini sudah on the track to right environment, daripada harus diam pada mereka yang bakal berinteraksi seumur hidup, tapi penuh ketidakjujuran.

Logika sederhananya begitu sajalah.

Maka saya jalankan pesan Guru jurnalistik sampai hari ini, bukan untuk siapa-siapa, apalagi UNTUK POLITIK seperti yang pernah dituduhkan, melainkan untuk Hanina, putri kecil saya.

Silahkan muak dengan saya. Silahkan membenci saya. Silahkan ngomongin saya macam-macam. Tapi saya tidak akan diam….!!!

CUKUP saya saja, yang harus tumbuh dengan hidup miskin di tengah kekayaan Negeri kita. Hanina berhak untuk mendapatkan kesejahteraan dari kekayaan Negeri ini yang dikelola dengan baik, arif dan bijaksana.

Alam dan lingkungan tempat kita hidup ini tidak boleh terus diperkosa. Kita sudah terlalu banyak mengambil dari alam, saatnya kita menghentikan egoisme dan sikap kemaruk sebagai manusia. Kita bukan satu-satunya penghuni bumi. Ada siklus kehidupan yang terus berputar, dan kita sama saja bunuh diri jika ikut merusaknya. Saatnya kita memberi jeda dan menjaganya dengan penuh rasa tanggungjawab, dan cinta.

CUKUP saya saja yang hak hidup sehatnya direnggut selama hampir 20 tahun, karena siksa asap. Hanina harus tumbuh sehat. Harus tumbuh sehat!!!

Cukup saya saja yang merasakan libur sekolah karena asap, karena kalo terus berasap lagi, Hanina bakal gak bisa sekolah dan otaknya tumpul lalu hidup dalam kebodohan dan penyakitan. Jika itu terjadi, saya tidak rela dan merasa gagal menjadi seorang Ibu yang dititipi Allah untuk menjaga bidadari surga yg imut itu.

SAYA MELAKUKAN SEMUANYA, DEMI PUTRI SAYA. Melindungi hutan semampu yang bisa saya lakukan dan melindunginya dari kebobrokan para penguasa, demi menjaga satu-satunya putri kecil saya tetap tumbuh sehat dan mengenal pohon, serta bisa menghirup oksigen gratis dari Tuhan.

Mengapa bukan demi adik-adik? bukan demi orang tua? Mereka nomor sekian. Lagipula mereka sudah terlanjur kena ISPA karena bencana asap yang menahun. Mereka juga sudah kebal hidup susah, karena kemiskinan dan peluang hidup sejahtera yang sulit dicari di tengah Negeri kaya raya ini. Mereka dan saya sama, sudah kebal melihat dan merasakan dampak ‘maling alam’ di depan mata.

Apakah saudara sekalian punya anak dan mencintai mereka? seperti saya yang tergila-gila dan siap melakukan apa saja demi Hanina? Jadi jangan muluk-muluk, cukup lakukan dan berdirilah tegak pada kejujuran dan kebenaran, untuk orang-orang yang kita cintai.

Mari kawal sama-sama dan jaga setiap jengkal hutan dan gambut kita !!! Ayooo kita jaga langit biru kita!!! Lakukan apapun yang bisa kita lakukan, sekecil apapun itu, demi masa depan orang-orang yang kita cintai dan sayangi.

Karena Bumi sudah mau kiamat, akibat campur tangan manusia. Sebagaimana Allah Taala berfirman dan sudah terbukti terjadi:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42).

#Hanya untuk mereka yang mau berpikir.

Salam Hormat

Afni Zulkifli
(Saya Asli Rakyat Riau)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda






  • Terkini