Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Relawan Tagih Janji-Janji Jokowi

25 Aug 2014 // 16:41 // PILEG, POLITIK & PEMERINTAHAN

halal bihalalSURABAYA (suarakawan.com) – Setelah terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) dituntut untuk memenuhi janji-janjinya yang disuarakan saat kampanye Pemilu Presiden (Pilpres) 9 Juli lalu. Sebab, kedua pasangan Capres-Cawapres itu dipilih oleh rakyat

Tuntutan itu terungkap dalam acara Halal bi Halal Relawan Jawa Timur bertema: Menyongsong Revolusi Mental dalan Membangun Bangsa, yang digelar di Surabaya, Senin (25/8). Ada istilah baru bagi para relawan itu menagih janji Jokowi dari relawan, yaitu Jashujan: Jangan sekali-kali hutang janji.

“Kalau Bung Karno (Soekarno) kita kenal Jasmerah-nya, jangan sekali-kali melupakan sejarah, tapi kalau Jokowi itu Jashujan. Artinya jangan sekali-kali hutang janji. Ini yang harus kita ingatkan kepada Jokowi,” kata Gatot Sutranta, politisi asal Partai Hanura.

Dijelaskan, relawan-relawan Jokowi-JK di Jawa Timur harus terus mengkritisi dan mengingatkan janji-janjinya saat kampanye. Saat memimpin negara, Jokowi tidak bekerja sendirian. Dia dikelilingi banyak partai, sehingga dikhawatirkan program kerja yang dijanjikan sulit dilaksanakan.

“Kita berharap, ini menjadi cikal bakal, embrio Jokowi-JK menjadi lembaga yang terorganisir dan terstruktur. Jokowi-JK butuh kekuatan di luar instrumen politik. Jadi, para relawan ini juga harus bisa mengawal kepemimpinan Jokowi-JK,” tuturnya.

Sementara untuk masalah Revolusi Mental, yang didengung-dengungkan Jokowi saat kampanye, Gatot menilai berkaitan erat dengan masalah sumber daya manusia (SDM). “Undang-undang sebaik apapun, kalau SDM-nya lemah, tidak akan efektif. Jadi harus dibenahi. Seperti koruptor misalnya. Jangan hanya hukuman fisik, sanksi sosial juga harus diterapkan untuk membangun Revolusi Mental,” tandasnya.

Selain Partai Hanura, beberapa relawan yang turut menyampaikan tuntutan yakni relawan pendukung Khofifah Indar Parawansah, Indonesia Link, Alu Kembang Unair, Alumni ITS, Almisbat, Partai Hanura, Kirab, Alumni Aktivis Perguruan Tinggi dan lain sebagainya.

Menurut, Eri Irawan dari Relawan Jokowi – JK dari ITS, fungsi relawan memang harus dipertajam, diperluas dari segi jaringan, serta dipersolid kekuatannya. Relawan harus bisa menjadi benteng, dengan menyumbang program-program tepat guna, karena posisi Jokowi di parlemen tidak terlalu kuat.

“Sembilan janji Jokowi harus kita kawal, terutama mengingatkan masalah Kartu Pintar dan Sehat, masalah Tol Laut dan lain sebagainya. Program-progarm ini yang akrab kita dengar ditelinga kita dari Jokowi. Sehingga sangat menarik ketika ada istilah Jashujan, untuk mengingatkan Jokowi,” jelasnya. (Bng)

Keterangan foto: Para relawan Jokowi-JK sepakat tuntut janji-janji Jokowi direalisasikan setelah resmi jadi Presiden. (Bng)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda






  • Terkini