Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Rasiyo Jadikan Pilkada Surabaya Sebagai Pembelajaran Politik

rasiyo

SURABAYA (suarakawan.com) – Mantan Sekertaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jatim, Rasiyo tak menyesali kegagalannya memenangkan pertarungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kkota Surabaya, 9 Desember 2015 kemrin. Dalam Pilkada Surabaya tahun ini, Rasiyo menggandeng Lucy Kurniasari sebagai wakilnya.

“Pilkada Surabaya ini sebagai pengalaman berharga dan kursus (pembelajaran.red) politik. Saya jadikan pengalaman yang luar biasa,” kata Rasiyo, seperti ditulis Senin (14/12).

Perhelatan Pilkada, menurutnya, merupakan pesta demokrasi yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan dapat menerima apapun segala hasil akhirnya. Demokrasi harus ada yang memilih dan dipilih.

“Kalau melihat hasil yang kurang memuaskan seperti kemarin, saya syukuri saja. Bukan berarti saya gagal, tapi saya yakin Allah punya rencana lain yang bakal menjawab ketertundaan keberhasilan saya ini,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Rasiyo dan Lucy yang diusung Partai Demokrat dan PAN merupakan pasangan calon (paslon) yang berlatar belakang birokrat. Beda dengan rivalnya, Risma dan Whisnu Sakti Buana yang merupakan murni partai dan telah lama berkecimpung dalam dunia perpolitikan.

“Saya jadikan pengalaman yang luar biasa. Saya kira dengan kemampuan birokrasi saya mampu mengalahkan Risma, tapi kenyataannya di lapangan lebih banyak politiknya dan permainan politik yang diterapkan lawan sebelah, itu lah yang tidak saya miliki dan bakal menjadi pembelajaran yang berharga bagi saya,” tuturnya.

Secara terus terang, Rasiyo mengaku untuk menjadi peserta Pilkada dengan ilmu birokrasinya sangatlah tidak mampu untuk dapat mencapai titik keberhasilan. Banyak permainan-permainan politik dalam pelaksanaan pilkada yang dapat dijadikan pengalaman luar biasa yang tidak pernah dikuasainya selama ini.

“Dengan begini kan saya bisa tau watak dan ciri-ciri orang politik. Seperti orang yang terlihat baik di depan saya tapi ternyata dalam hatinya tidak baik,” tuturnya tanpa menyebut nama orang yang dimaksud.

Melihat kemirisan kondisi lapangan yang kental akan nuansa perpolitikan menjadi sebuah catatan khusus bagi Rasiyo jika kelak berniat kembali untuk menjadi peserta pemilihan umum (pemilu).

Namun ketika disinggung apakah setelah kegagalan ini dirinya akan kembali mencalonkan diri pada kesempatan berikutnya, Rasiyo sempat mengiyakan. Namun dengan syarat jika demokrasi mampu berjalan dengan sempurna.

“Demokrasi itu memilih pemimpin bukan memilih barang. Meskipun pendukung saya banyak dan sempat optimis menang tapi jika nuansa politik lebih besar daripada demokrasinya maka bakal sia-sia,” keluhnya.

Karena itu, Rasiyo menghimbau kepada masyarakat agar dapat betul-betul memahami demokrasi. Masyarakat harus dapat pula berfikir cerdas agar tak mudah terpengaruh terhadap iming-iming rupiah.

“Masyarakat masih terpengaruh pada apresiasi politik, entah itu berupa uang ataupun barang yang tak seberapa tinggi nilainya dan juga bisa jadi sesal di keesokan harinya. Jadi kalau boleh saya sarankan, gunakan selalu pikiran rasional dan hati nurani dalam demokrasi,” tuturnya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini