Prihatin, FAM Unair Gelar Malam Doa Untuk TKI Yang Dipancung Di Arab

TKI malang (dok)

SURABAYA (suarakawan.com) – Pemancungan TKI Ruyati binti Sapubi di Arab Saudi Sabtu kemarin, 18 Juni 2011 karena dituduh telah membunuh keluarga majikannya, Khairiyah Majlad menuai kritikan dan kecaman terhadap pemerintahan SBY yang dinilai gagal melindungi warganya.

Tragisnya, pemancungan terhadap Ruyati ini tidak berselang lama dengan pidato Presiden SBY di Sidang ILO ke-100 pada 14 Juni lalu tentang sudah berjalannya mekanisme perlindungan pada tenaga kerja Indonesia (TKI).
“Namun angin segar itu sontak lenyap dengan datangnya kabar TKI Ruyati binti Sapubi yang telah dihukum pancung di Saudi Arabia. Peristiwa tersebut jelas memperlihatkan bahwa apa yang dipidatokan oleh Presiden SBY di ILO tersebut tidak sesuai dengan realitas yang ada di lapangan, kritik Albertus Beny, Humas Forum Advokasi Mahasiswa Unair, Senin (20/06).

FAM menilai eksekusi mati terhadap Ruyati binti Sapubi ini juga menggambarkan bagaimana terjadi politik pembiaran terhadap nasib Buruh Migran, walaupun sebenarnya Migrant CARE telah menyampaikan perkembangan kasus Ruyati ini ke Pemerintah Indonesia sejak bulan Maret.

“Apalagi dalam kasus Ruyati, masyarakat tidak pernah mengetahui proses hukum dan upaya diplomasi apa yang pernah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menangani kasus tersebut. Dan politik pembiaran ini tentunya sudah sering kita ketahui bersama pada kasus penyiksaan Sumiati, terlantarnya 200 keluarga TKI di arab Saudi, kasus Darsem yang di ancam hukuman mati, eksekusi mati terhadap Yanti Iriyanti, PRT migran Indonesia asal Cianjur yang juga tidak pernah diketahui oleh publik,” tegas Beny.

Sebagai bentuk keprihatinan, FAM Unair berencana untuk menggelar malam doa untuk almarhumah Ruyati nanti malam  pukul 18.30 wib di depan gedung negara Grahadi.(nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Prihatin, FAM Unair Gelar Malam Doa Untuk TKI Yang Dipancung Di Arab"