Pria di Bekasi Dibakar Hidup-hidup, Begini Kronologinya

tewas

BEKASI (suarakawan.com) – Kepolisan menjelaskan bagaimana sampai akhirnya M Alzahra alias Joya (30), tewas dikeroyok dan dibakar di Pasar Muara, Kabupaten Bekasi, Selasa (1/8) lalu.

Awalnya, Joya mendatangi Musala Al-Hidayah pada jam salat Asar. Kemudian, bersama marbot musala, R, yang juga jadi saksi dalam kasus kematian Joya, melakukan salat Asar.

Usai salat, kondisi musala sepi. Saat itulah, diduga Joya hendak mengambil amplifier atau pengeras suara milik musala.

“Kemudian si saksi (R) ini melihat bahwa amplifier di musala tidak ada,” ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Markas Polda Metro Jaya, Senin (7/8).

Melihat pengeras suara tidak ada, R pun bergegas mencari orang terakhir yang ada di sana bersamanya saat itu. Pria itu adalah Joya.

Namun, R tak menemukan yang bersangkutan. Tapi R tak berhenti mencari. R lantas mengajak warga ikut mencari Joya.

“Kemudian si R dan warga mencari pelakunya hingga menemukan di pasar murah. Si terduga pelaku ini membawa ampli itu. Setelah dicek kemudian sama dengan yang ada di musala,” tuturnya.

Di sanalah warga yang tidak terima akhirnya melakukan perbuatan main hakim sendiri kepada Joya. Pengeroyokan itu pun akhirnya menimbulkan hilangnya nyawa Joya.

“Karena dengan spontan mereka melakukan penganiayaan,” kata Argo.

Sebelumnya diberitakan, seorang pria berinisial MA dikeroyok dan dibakar hidup-hidup oleh warga, Selasa, 1 Agustus 2017, sekitar pukul 16.30 WIB.

MA dibakar hidup-hidup karena dituduh sebagai pelaku pencurian pengeras suara milik Musala Al-Hidayah di Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. (viv/rur)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Pria di Bekasi Dibakar Hidup-hidup, Begini Kronologinya"