Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Presiden LIRA: Jika Ingin Jadi Gubernur, Gus Ipul Harus Persiapkan Secara Matang

03 May 2016 // 18:47 // HEADLINE, PILGUB JATIM

gus ipul

SURABAYA (suarakawan.com) – Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) harus mempersiapkan diri dengan baik jika ingin terpilih menjadi Gubernur. Jabatan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), tidak menjamin Gus Ipul dapat memenangkan dengan mudah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jatim 2018 mendatang.

“Saya tidak yakin Gus Ipul bisa menjadi Gubernur jika tidak dipersiapkan dengan baik. Karena, Gus Ipul tidak otomatis mampu menguasai NU, meski menjabat Ketua PBNU,” kata Presiden Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) kepada wartawan di Surabaya, Selasa (3/5).

Jusuf Rizal mengatakan demikian, karena berkaca pada pengalaman Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 lalu. Saat itu, Presiden Megawati Soekarnoputri yang mencalonkan kembali sebagai Presiden berpasangan dengan Ketua PBNU Hasyim Muzadi bisa kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK).

Dalam konteks dan logika, seharusnya Megawati dan Hasyim Muzadi memiliki konstituen besar. “Kenapa bisa kalah. Ini bisa juga terjadi kepada Gus Ipul. Tidak ada jaminan, walau Gus Ipul sekarang Ketua PBNU,” ujarnya.

Soal kemungkian Gus Ipul didukung PDIP bakal menang, Jusuf Rizal lagi-lagi membantah. Alasannya, pemilih sekarang ini sudah sangat cerdas. Masyarakat tidak bisa dibohongi dan bisa melihat mana calon pemimpin yang baik.

“Itu bisa terjadi swing voter. Contohnya Pilpres, yang namanya massa PDIP besar. Megawati waktu itu jadi Presiden punya kekuatan luar biasa digandeng Hasyim Muzadi yang punya nahdliyin. Tapi, tetap saja kalah. Jadi, peta sekarang sudah berubah, masyarakat bisa melihat dan lebih cerdas,” ungkapnya.

Pertarungan terakhir, lanjutnya, adalah kesiapan jaringan dan logistik. Karena Jatim ini sangat luas. Dukungan kelompok pesantren dan ulama itu bukan menjadi ukuran akan bisa menang. Karena, polrarisasi dukungan ini sangat tergantung kepada transaksional.

“Bisa saja dari pimpinan ulama akan mendukung si A, tetapi santri atau voternya itu memiliki dinamikan politik yang lebih luas dan pintar dengan adanya teknologi. Jadi, mereka punya pilihan sendiri. Kalau dulu tidak, tergantung fatwa,” tuturnya.

Jadi, tegasnya, yang harus dilakukan adalah apa yang menjadi program yang bisa dijual kepada masyarakat. Sehingga konstituen meyakini bahwa itu benar. “Ini kembali kepada trik kita. Saya rasa Pakde Karwo pun tidak ada hal-hal yang “kongkrit”, akan sulit,” tandasnya.

Bagaimana dengan LIRA? Jusuf Rizal menyebut sampai sekarang belum mengambil sikap. “LIRA masih wait and see. Begitu juga dengan Partai Swara Rakyat Indonesia (Parsindo),” ucap Presiden Parsindo ini. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda






  • Terkini