Praktisi: Informasi Hoaks Berawal dari Kalimat ‘Tolong Sebarkan’

JAKARTA (suarakawan.com) – Kecanggihan teknologi memungkinkan semua orang dari berbagai latar belakang bisa menyebarkan informasi. Tak hanya yang bersifat informatif untuk memberikan pencerahan, konten negatif seperti hoaks dan ujaran kebencian pun mudah dibuat dan disebarkan.

Pegiat Media Sosial Shafiq Pontoh menyebut pada dasarnya ada indikasi tertentu yang secara tidak langsung menunjukkan apakah informasi yang beredar memang benar atau hanya ujaran kebencian untuk menggiring opini masyarakat.

“Biasanya informasi hoaks itu berawal dari kalimat ‘tolong sebarkan’ atau ‘informasi ini dipastikan A1’. Kalimat yang lebay seperti ini biasanya indikasi berita hoaks,” ujar Shafiq, dalam Metro Pagi Primetime, Metro TV, Minggu 4 Maret 2018.

Shafiq menilai upaya pencegahan penyebaran konten hoaks tidak bisa dilakukan oleh pihak luar. Yang paling bertanggung jawab dalam penyebaran isi konten baik positif maupun negatif kembali ke pribadi masing-masing.

Meski begitu, cara paling mudah untuk memutus mata rantai hoaks di media sosial adalah dengan perilaku ‘menahan jempol’. Artinya, ketika seseorang mendapatkan kiriman konten, baik melalui grup percakapan maupun media sosial platform, agar memastikan terlebih dulu informasi yang diberikan. Apakah benar atau hanya berita bohong.

“Saring dulu sebelum sharing. Pastikan infonya benar atau tidak jangan langsung di-share. Kalau enggak tahu sumbernya tapi terasa tidak benar, jangan di-share,” katanya.

Selain itu, cara lain yang bisa dilakukan adalah memastikan apakah link yang dibagikan berasal dari media mainstream atau hanya media abal-abal yang tak memiliki redaksi.

Link yang dibagikan pun, kata Shafiq, harus dicek apakah isinya benar sesuai dengan catatan provokatif atau memang informasi yang dibagikan sudah berdasarkan isi berita yang disebarkan.

“Jangan sekadar baca judul apalagi nama medianya abal-abal. Pastikan ejaan medianya benar, kadang ada media yang menambahkan huruf A untuk mengecoh masyarakat agar sumber berita lebih dipercaya,” jelas Shafiq.(mtv/rur)

Tag:
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Praktisi: Informasi Hoaks Berawal dari Kalimat ‘Tolong Sebarkan’"