Polusi Suara dan Kebisingan di Perkotaan Tak Terelakkan

SURABAYA –  Polusi suara dan kebisingan tampaknya tak bisa lagi terelakkan, terutama di daerah perkotaan dan kawasan industri. Polusi udara ini berdampak pada alat pendengaran manusia, yakni telinga.  Hal ini terungkap dalam diskusi Masyarakat Bebas Bising (MBB) di Co2 Library, Jalan Doktor Sucipto 20, Surabaya, Sabtu (26/3) sore.

Panel diskusi dengan tema “Kebisingan Sebagai Polusi Yang Merajalela” , kata Panitia Diskusi MBB, Gema Swaratyagita, sebagai wujud dalam rangka menyambut hari bumi dan tentunya sangat berhubungan sekali dengan ‘Earth Hours’.

Gema menjelaskan kebisingan tidak sekedar menimbulkan rasa tidak nyaman namun juga dapat menimbulkan efek serius bagi kesehatan manusia. Dan alat-alat tertentu menimbulkan kebisingan sedemikian hebatnya bahkan menggangu penduduk yang tinggal di sekitar pabrik hingga radius ratusan meter.

” Kebisingan mesin pabrik kontribusi tertinggi kebisingan yang mengakibatkan telinga manusia rusak. Selain itu, dipadatnya kendaraan di  jalan raya. (dp)

Sementara itu, Badan kesehatan Dunia (WHO) melaporkan,  8 – 12% penduduk dunia menderita dampak kebisingan dalam berbagai bentuk. Angka itu diperkirakan akan terus meningkat.

Tidak diragukan lagi, kebisingan dapat menyebabkan kerusakan pendengaran, baik yang sifatnya sementara ataupun permanen. Hal ini sangat dipengaruhi oleh intensitas dan lamanya pendengaran terpapar kebisingan. Intensitas bunyi adalah arus energi per satuan luas yang dinyatakan dalam satuan desibel (dB). (dp/ara)

Satu Respon

Tinggalkan pesan "Polusi Suara dan Kebisingan di Perkotaan Tak Terelakkan"