Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Pilgub Jatim 2018, Waspadai Ancaman Politik SARA

10 Nov 2017 // 09:59 // HEADLINE, PILKADA

pilkada

SURABAYA (suarakawan.com) – Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Muradi meminta kepada masyarakat di Jatim, dan unsur Muspida untuk mewaspadai isu berbasis suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) berkembang di Pilgub Jatim 2018 mendatang.

Menurut Muradi, meskipun selama ini Jawa Timur dikenal kondusif dan menjadi basis Nahdlatul Ulama (NU) yang selama ini menyebarkan ajaran Islam yang santun dan damai. Namun, kalau tokoh masyarakat dan tokoh agama di Jatim lengah, apa yang terjadi di Jakarta bisa terjadi di Jawa Timur.

“Kemungkinan politik SARA membesar di Jatim memang kecil karena tipologi dan kultur Jatim berbeda dengan Jakarta. Tapi tidak boleh lengah kalau tidak mau kecolongan,” tegas Muradi, Jumat (10/11).

Aktivis mahasiswa eksponen ’98 ini melihat aktor-aktor politik yang menyebarkan politik SARA di Jakarta sama dengan di Jatim. Sebab, dirinya melihat tokoh-tokoh di Jakarta ini juga telah mulai masuk ke Jawa Timur. Kalau pun ada yang berasal dari Jatim jumlahnya tidak signifikan.

Meskipun, masyarakat Jawa Timur dikenal sebagai masyarakat yang santun. Namun dengan memanfaatkan teknologi dan penyebaran melalui media sosial yang dilakukan secara massif, sangat mungkin isu SARA itu bisa ditermakan oleh masyarakat.

“Isu SARA yang diproduksi secara massif dengan memanfaatkan media sosial bisa saja lama-lama termakan oleh masyarakat dan dipercaya sebagai kebenaran,” ujar Doktor ilmu politik dari Flinders University, Australia tersebut.

Dosen FISIP Unpad ini yakin pasangan Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas (Saiful-Anas) maupun Khofifah Indar Parawansa yang saat ini masih memilah pasangan tidak mungkin menggunakan politik SARA dalam kampanye pilgub.

Pasalnya, latar belakang Gus Ipul dan Khofifah sebagai kader NU yang santun akan menjadi bumerang yang akan berbalik ke mereka kalau keduanya melempar isu SARA dalam kompetisi suksesi di Jawa Timur.

“Saya menilai tidak mungkin Gus Ipul dan Khofifah menggunakan isu SARA dalam kampanye pilgub. Hal itu akan berbalik dan menampar wajah mereka kalau dilakukan, karena mayoritas warga Jatim adalah nahdliyin yang dikenal santun dan toleran,” urai Muradi.

Pengamat Pertahanan dan Kepolisian ini meyakini kalau antar tokoh agama dan tokoh masyarakat di Jawa Timur punya komitmen menjaga provinsi dengan 42 juta penduduk itu tetap kondusif, maka provokasi politik SARA tidak akan laku di Jawa Timur.

Terutama dua ormas terbesar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Ormas ini adalah kunci untuk menjaga situasi kondusif di Jatim yang selama pemerintahan Soekarwo sangat terkendali.

“NU dan Muhammadiyah bisa menjadi benteng dari serangan politik SARA di Jatim. Kalau punya komitmen, kedua ormas ini bisa meredam isu SARA,” pungkasnya. (aca/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini