Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Pertumbuhan Industri Kuliner Jatim Meningkat Hingga 20 Persen

16 May 2017 // 21:45 // EKONOMI, HEADLINE

IMG-20170516-WA0006-1

SURABAYA (suarakawan.com) – Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menilai pertumbuhan bisnis kuliner makanan dan minuman di Jatim hingga Mei tahun 2017 cukup pesat. Ditengah bisnis lain cenderung melambat, bisnis kuliner makanan dan minuman tumbuh 15 hingga 20 persen.

“Bisnis lain melambat, tapi pertumbuhan bisnis kuliner lebih meningkat,” kata Gus Ipul saat menghadiri Launching Forum Pengusaha Restoran bekerjasama dengan Apkrindo, di Kamus UK Petra, Surabaya, Selasa (16/5).

Di Thailand, menurut pemerintahannya memberikan subsidi untuk pengiriman bahan baku dari negara lain. Sehingga pengusaha bisnis kuliner di negaranya dapat berkembang. “Sayangnya, hal itu di negara kita belum dapat diterapkan,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Gus Ipul menyampaikan beberapa hal kepada para pelaku bisnis kuliner makanan dan minuman di Jatim, khususnya peserta dan anggota Apkrindo. “Seperti di luar negeri, para pelanggan bisa langsung mengetahui bagaimana bahan bakunya, proses pembuatannya, higienis atau tidak,” ujarnya.

Untuk bahan baku, lanjutnya, meski masih ada beberapa bahan baku penolong yang impor, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Untuk itu, para pengusaha ini bisa lebih kreatif. Demikian pula masalah kemasan produk juga perlu diperhatikan.

“Saya pernah melakukan riset kecil-kecilan. Kala itu, saya menemui penjual kacang yang produknya hanya dikemas seadanya saja, paling banyak laku 15 bungkus. Ketika kemasannya diperbaiki, laku 50 bungkus,” paparnya.

Dalam kesempatan itu? salah seorang audiens sempat menanyakan pada Gus Ipul tentang peran Pemerintah Jatim terkait UMKM. “Saat ini banyak buruh yang sadar ketimbang harus menunggu PHK, akhirnya membuka startup usaha sendiri, karena memang ini usaha paling mudah dan sumber dayanya luar biasa,” ujarnya.

Menjawab hal ini, Gus Ipul yang juga Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) mengaku akan memfasilitasi pengusaha pemula untuk mendapatkan akses modal dan akses pasar serta pendampingan kualitas produk.

“Saat ini, bukan lagi perusahaan atau pabrik besar yang padat karya. Justru UMKM-lah yang menyerap hampir 90 persen tenaga kerja di Jatim. Pengusaha besar kita jaga, menengah kita fasilitasi. Sementara, UMKM akan kita bela dengan perlindungan, anggaran dan berbagai pelatihan,” jelasnya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini