Pernikahan Adat Jawa Yang Mulai Dilupakan

Tidak ada komentar 82 views

siraman, salah satu prosesi dalam pernikahan adat Jawa

SURABAYA (suarakawan.com) – Pernikahan adat Jawa sesungguhnya merupakan sebuah ritual yang sangat indah, agung dan penuh makna. Mulai dari malam Midodareni yang mana sang calon pengantin putri dimandikan atau disucikan sehingga tampak secantik bidadari menjelang pernikahan yang juga bersifat suci hingga prosesi temu manten dan resepsi.

Namun, sangat disayangkan dewasa ini banyak masyarakat Jawa yang tidak lagi mau menghadirkan prosesi tersebut secara lengkap, terlebih kalangan menengah kebawah. Ini tak lepas dari asumsi bahwa upacara pernikahan adat Jawa secara lengkap akan menghabiskan banyak biaya.

Fakta diatas diungkapkan oleh Suprawoto, seorang pranoto coro (pembawa acara adat Jawa) senior di Kota Surabaya ini. Prawoto, demikian panggilan akrabnya menyatakan bahwa masalah biaya bisa disesuaikan dengan anggaran dana.

“Bahkan hanya dengan Rp 250 ribu kita bisa mengadakan prosesi pernikahan Jawa secara lengkap,” ujarnya.

Sebaliknya, biaya pernikahan adat Jawa mahal justru disebabkan karena mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk konsumsi dan hal-hal lain yang lebih bersifat remeh. “Jadi saya prihatin mas bahwa kebudayaan Jawa ini semakin terasing justru di tanahnya sendiri,”keluhnya.

Meski demikian, pria berkacamata ini tak patah arang. Dia terus berusaha menumbuhkan kecintaan akan budaya Jawa.

Sebagai bentuk keperdulian terhadap kelangsungan kebudayaan Jawa terutama profesi pranoto coro (pembawa acara bahasa Jawa) membuat Prawoto mendirikan sanggar makutho pada tahun 1991. Niat mulia tersebut ternyata mendapat tanggapan yang positif dari masyarakat.

Ini terbukti dengan membanjirnya peminat kursus yang memakan waktu sekitar 6 bulan. Tiap kali kursus pranoto coro digelar, tak kurang dari 25 peserta dari berbagai kalangan dan usia mengikuti kursus tersebut.

Berbagai materi yang diberikan terbagi menjadi 2 bagian yaitu intern dan ekternal. “Intern berarti segala sesuatu yang berasal dari dirirnya seperti tata rias, olah vokal hingga peningkatan rasa percaya diri dalam menghadapi audien. Sementara materi eksternal meliputi pengenalan prosesi pernikahan mulai dari awal madik-madik, nontoni, lamaran, malam mododareni sampai dengan temu manten, panggih dan sepasaran,”jelas mantan ketua UPTD THR ini.

Selain itu, sanggar makutho juga mengajarkan prosesi yang mungkin terjadi pasca pernikahan seperti tingkepan (hamil tiga bulan dalam kalender Jawa-3 kali 35 hari) dan mitoni (hamil tujuh bulan dalam kalender Jawa). Ketika ditanya prospek alumni kedepan Prawito menyatakan bahwa peluang kerja dengan menjadi MC sangat terbuka.

“Alumni dari sanggar makutho bukan hanya bisa menjadi MC acara jawa saja, diharapkan mereka juga bisa menjadi MC di berbagai acara lain karena ilmunya hampir sama,” tuturnya.

Bahkan Prawoto mengungkapkan jika MC adat Jawa pasti bisa jadi MC acara apapun tapi belum tentu MC umum bisa menjadi MC adat Jawa. Terlebih, saat ini pranoto coro atau pembawa acara adat Jawa juga punya organisasi dan ritual yang unik.(nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Pernikahan Adat Jawa Yang Mulai Dilupakan"