Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Perawat Jerman Telah Membunuh Sedikitnya 100 Pasien

11 Nov 2017 // 19:34 // HEADLINE, INTERNASIONAL, PERISTIWA

_98690212_c83ca681-9303-4ff5-ac06-63e164b6b5ed

BERLIN (suarakawan.com) – Uji toksologi menunjukkan bahwa seorang mantan perawat Jerman sedikitnya membunuh 100 di dua rumah sakit tempatnya bekerja, menurut jaksa.

Para penyidik yakin Niels Hoegel -yang sedang menjalani hukuman seumur hidup untuk dua kasus pembunuhan- secara sistematis memberikan obat jantung dengan dosis mematikan kepada pasien yang dirawatnya.

Dia kemudian mengelabui rekan kerjanya rekannya dengan mencoba menyadarkan kembali pasiennya namun banyak yang meninggal dunia.

Menurut penyidik, dia mungkin membunuh pasien lebih banyak namun kemungkinan korban-korban tersebut sudah dikremasi.
Jika terbukti bersalah atas semua kematian yang dituduhkan, dia menjadi pembunuh berantai yang terburuk di Jerman pasca-Perang Dunia II.

Penyelidikan atas Hoegel dikembangkan lebih luas ketika dia mengaku membunuh sampai 30 orang dalam pengadilan tahun 2015, yang memutuskan dia bersalah dalam dua kasus pembunuhan, dua upaya pembunuhan, dan melukai pasien-pasien.

Penyidik menggali kembali kuburan 130 mantan pasien dan menelusuri jejak-jejak pengobatan yang bisa menutup sistem kardiovaskular mereka. Catatan-catatan medis di rumah sakit tempat Hoegel bekerja juga diteliti secara seksama.

Catatan di klinik Oldenburg memperlihatkan melonjaknya tingkat kematian dan upaya menyadarkan kembali pada masa jam tugas Hoegel, seperti dilaporkan majalah Der Spiegel.

Namun dia tetap mendapat rujukan yang baik dan pindah kerja ke sebuah rumah sakit di dekat Delmenhorst, dan jumlah pasien yang meninggal yang tidak biasa tercatat ketika pria berusia 41 tahun itu sedang bertugas.

Dia tertangkap ketika seorang perawat melihat seorang pasien yang sebelumnya stabil kemudian menderita detak jantung yang tidak teratur. Hoegel sudah berada dalam kamar pasien ketika sedang disadarkan kembali dan perawat bersangkutan menemukan tabung obat yang kosong di keranjang sampah.

Dalam pengadilannya tahun 2015 dia menyatakan ‘permintaan maaf yang tulus’ dan berharap para keluarga korban bisa menemukan kedamaian.

Menurutnya tindakan yang dilakukannya itu ‘relatif spontan’ dan menambahkan setiap kali seorang pasien mati dia bertekad untuk tidak akan melakukannya lagi namun tekadnya tadi perlahan-lahan menghilang.(bbc/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini