Peran Otak Dalam Membentuk Kebudayaan

klub sains

JAKARTA (suarakawan.com)-Indonesia sangat membutuhkan kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itu, Klub Sains Freedom Institute memberikan  pencerahan Rabu 1 Juni 2011, di Wisma Proklamasi yang berlokasi Jalan Prioklamasi No.41 Jakarta Pusat.

Dipandu moderator Nirwan A. Arsuka,  diskusi ini menampilkan pembicara Dr. Ryu Hasan yang dalam paparannya menjelaskan bahwa otak manusia tampak seperti sebongkah jaringan berbentuk buah mangga yang kisut, yang berlekuk2 dengan berat sekitar 1,4 kilogram.

“Walaupun penampakannya lebih mirip benda tak berguna yang terbawa arus dan terdampar di pantai dari pada sebagai salah satu keajaiban dunia meskipun bentuknya memang jelek,” papar Ryu Hasan dengan nada canda yang membuat audiens terpingkal-pingkal.

Disamping itu, lanjut Ryu, ada kejadian2 evolusi spesies manusia yang belum pernah dapat ditetapkan dengan pasti. Tetapi pemikiran berbagai tekanan  lingkungan menjadi sebab terjadinya evolusi pada otak dan prilaku yang sering menghasilkan berbagai cara pandang biopsikologis penting inilah disebut perspective evolusioner.

“Artinya berusaha memahami fenomena biologis dengan membandingkan kepada spesies-spesies yang berbeda, ini juga namanya pendekatan komparatif. Namun perjalanannya masalah otak memunculkan pendapat ternyata berat otak sebagai prosentase dari berat badan total seorang merupakan ukuran kapasitas intelektual yg lebih baik,” imbuhnya.

Hal itu antara lain memungkinkan manusia yang berat otaknya sebesar 2, 33%, berat tubuhnya berada di atas gajah 0,20%, tetapi juga memungkinkan manusia & gajah dilampaui oleh hewan paling cerdas di kerajaan binatang yaitu shrew (sejenis tikus) sejumlah 3,33%.

Disamping itu pada kebanyakan spesies, matting (perkawinan) dilakukan secara promiscous (hubungan seksual yang tidak pandang bulu tidak diskriminatif). Promisquity (promiskuitas) adalah perkawinan yang anggota kedua jenis kelamin berkopulasi secara tidak diskriminatif dgn banyak pasangan yang berbeda selama masa kawin.

“Meskipun kopulasi yang tidak diskriminatif merupakan modus reproduksi yang dominan, jantan dan betina beberapa spesies membentuk matting bonds (hubungam perkawinan yang bertahan lama) dengan lawan jenisnya,” pungkasnya. (iza/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *