“Penjebar Semangat” Ikon Pers Nasional

Tidak ada komentar 15 views

SURABAYA (suarakawan.com) – Tanggal 9 Februari ini merupakan Hari Pers Nasional. Dan inilah salah satu majalah tertua di Indonesia. Majalah ini adalah mingguan “Penyebar Semangat. Majalah dengan bahasa jawa ini tetap eksis selama 78 tahun sejak terbit untuk pertama kalinya pada tahun 1933 hingga hari ini.

Pendiri majalah ini adalah Dr soetomo yang menjadi salah satu tokoh pers di Indonesia. Di sudut rumah di jalan Bubutan Surabaya ini pertama kalinya tokoh atau dokter dan budayawan Dr soetomo mendirikan majalah penyebar semangat pada 78 tahun yang lalu. Tepatnya pada tanggal 2 september 1933. Tokoh yang menjadi salah satu pencetus sumpah pemuda 1928 tersebut sengaja mendirikan majalah dengan menggunakan bahasa jawa agar pesan informasi dan kabar mudah dicerna masyarakat, karena pada masa itu kebanyakan orang belum paham betul bahasa indonesia.

Menurut Pimred majalah Penjebar Semangat. Moehtar, Visi majalah ketika itu bertujuan untuk mengobarkan semangat kepada rakyat dengan pesan tulisan dan informasi perjuangan kemerdekaan. Saat itu majalah hanya berbentuk lembaran-lembaran bukan tertata layaknya seperti sekarang ini dengan pesan gambar, karikatur, dan cerita berbahasa jawa yang mudah dipahami rakyat.

“Di jaman jepang, majalah ini pernah terancam dibredel atau dicabut ijinnya karena dianggap tidak mematuhi corong penguasa jepang. Namun saat proklamasi, penyebar semangat tetap turut menginformasikan berita gembira ini kepada masyarakat jawa di seluruh indonesia. ” Kata Moehtar dengan nada yang pelan karena usia, Kamis (09/02)

Diawal kemerdekaan, lanjut Moehtar, majalah ini turut eksis berjuang mempertahankan merah putih dengan informasi membendung propaganda belanda dan jepang yang belum rela indonesia merdeka.

” Namun pada prinsipnya sejak dulu hingga era sekarang ini majalah penyebar semangat tidak tunduk dan terikat pada kelompok, golongan dan politik tertentu. Bahkan hingga di jaman orde baru hingga era reformasi saat ini, majalah belum pernah meminta dana sumbangan dari pemerintah,” terangnya.

Majalah ini murni hidup dari oplah penjualan, karena untuk iklan memang sedikit. Namun rahasia tetap eksis hingga saat ini yakni tetap mempertahankan jati diri majalah, yakni fokus pada pesan informasi budaya, cerita rakyat, seni. Bahkan untuk pendidikan bahasa jawa tetap dipertahankan sebagai nyawa majalah dengan alasan Penyebar Semangat bertekat tetap melestarikan akar dan budaya jawa hingga ke anak cucu.

Untuk itu sasarannya bukan hanya golongan tua namun juga kaum muda yang peduli atas sastra dan budaya jawa. “Untuk dapat eksis ya kita tetap melayani pelanggan yang setia,” lanjut Moehtar.

Diketahui hingga kini Penyebar Semangat merupakan salah satu majalah tertua berbahasa jawa di dunia dengan oplah sekitar 25 ribu ekslempar per minggu. Pelanggan tidak hanya di pulau jawa, namun di seluruh nusantara bahkan hingga asutralia, Suriname belanda dan jepang.

“Penyebar Semangat bertekat tetap eksis karena mereka berpedoman tidak menjadi besar tidak apa-apa, namun tetap berumur panjang hingga anak cucu tetap mengenal akar budaya jawa,” tutup Moehtar. (bs/jto)

 

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "“Penjebar Semangat” Ikon Pers Nasional"