Penghadangan Rombongan FPI, Masyarakat Jangan Mudah Terprovokasi

SURABAYA (suarakawan.com) – Masyarakat jangan terprovokasi dengan tindakan sekelompok orang yang melakukan penghadangan rombongan Front Pembela Islam (FPI) di Kalimantan Tengah, pekan lalu. Justru sebaliknya, aksi itu patut diwaspadai karena dapat memecah belah umat.

“Penghadangan rombongan FPI di Kalimantan Tengah, jangan sampai terulang lagi. Kami menghimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi,” kata Ketua Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur, Abdurrachman Azis kepada wartawan di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, (14/02).

Pihaknya sangat menyesalkan kejadian itu. Sebab, apapun namanya kekerasan tidak diperbolehkan, termasuk kepada organisasi Islam, seperti FPI. Karena itu, Pemerintah dan aparat harus menyelidiki dan menuntaskan kejadian tersebut berdasarkan aturan hukum yang berlaku.

“Agar tidak terulang di kemudian hari, kami menghimbau pemerintah melakukan langkah-langkah produktif untuk mencegah kekerasan terhadap elemen masyarakat di wilayah NKRI. Dengan tindakan tegas terhadap para pelaku dan teguran kepada kepala daerah dan penanggungjawab keamanan setempat, aturan hukum dapat ditegakkan sekaligus menenangkan masyarakat dari upaya provokasi sejumlah pihak,” ujarnya.

Kriminalisasi terhadap ormas tertentu disinyalir sebagai upaya merusak atmosfir kehidupan bermasyarakat dan menghancurkan Empat Pilar Negara (Pancasila, UUD’45, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI). “Saya minta kepolisian menangani kasus ini secara profesioanal dan obyektif,” ucapnya.

Ketua Bidang Amarma’ruf Nahimunkar DPW FPI Jatim, Ali Badri Zaini juga mendesak pemerintah dan Komnas HAM mengusut penghadangan tersebut. Sebab, kejadian tersebut diduga ada usaha percobaan pembunuhan pada rombongan FPI pusat. “Kami juga minta presiden menonaktifkan Gubernur dan Kapolda Kalteng karena membiarkan tindakan premanisme dan pelecehan agama terhadap rombongan yang ingin berdakwah ini,” tandasnya. (Bng/jto)

 

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Penghadangan Rombongan FPI, Masyarakat Jangan Mudah Terprovokasi"