Pengen Nikah, Ngaku Dokter Ahli Kandungan

dokter gadungan

SURABAYA (suarakawan.com) – Di zaman yang sedang susah ini,banyak cara orang untuk bertahan hidup,tak peduli jika yang dilakukan membawa konsekwensi menginap di hotel prodeo alias penjara. Seperti yang dialami oleh Budi Setiono alias Budi Satrio alias Hartono,41,warga Surabaya.

Mengaku sebagai dosen Unair dan dokter spesialis kandungan, tersangka melakukan rentetan tindak pidana penipuan. Hingga saat ini baru 2 orang korban yang lapor polisi. Namun berdasarkan pengakuan bapak satu anak tersebut, korbannya lebih dari 5 orang. Kini kasus dokter dan dosen gadungan itu ditangani Polsek Genteng.

“Bagi masyarakat  yang menjadi korban aksi tipu-tipu yang dilakukan oleh tersangka silakan melapor.Dugaan   kami  korbannya cukup banyak,” kata Kapolsek Genteng Kompol Budi Santosa, .

Budi menambahkan, kasus ini berawal dari laporan korban,yakni Ny. Kartini warga Jl Keputran Kejambon. Dia mengalami kerugian sekitar Rp 30 juta. Sedangkan korban lainnya adalah tetangga Ny Kartini, yakni Hj. Rahmah. Wanita 65 tahun tersebut kehilangan beberapa perhiasannya senilai Rp 25 juta. Yakni gelang seberat 25 gram, kalung seberat  12,5 gram serta gelang 12,5 gram.

Modus dari tersangka Lantas dengan Cara mengaku sebagai dokter spesialis kandungan yang berpraktek di RS Internasional Graha Amerta dengan nama dr Hartono. Untuk meyakinkan korban-korbannya, tersangka selalu mengenakan tanda pengenal tertuliskan dr. Hartono serta selalu membawa tas yang berisi brosur dan sejumlah obat-obatan serta vitamin.

”Kepada Ny Kartini, tersangka menawarkan bisa memasukkan anaknya Ny Kartini ke Kedokteran Unair asalkan bisa menyediakan uang. Berhubung  percaya dengan penampilan tersangka, lalu Ny Kartini memberikan uangnya senilai Rp 20 juta yang pembayarannya dicicil beberapa kali sejak Januari lalu,” tambah kapolsek Genteng.

Sedangkan korban Hj Rahmah ditipu dengan jalan, tersangka berpura-pura  untuk berniat menikahi putri korban.Dengan dalih itulah  tersangka pinjam uang  dengan alasan untuk membangun poliklinik di Surabaya. Berhubung tidak punya uang kontan, lalu korban memberikan sejumlah perhiasannya tersebut kepada tersangka. Namun semua janji yang diomongkan tersangka bohong semua.

“Tersangka ditaksir mendapatkan uang sejumlah Rp 50 juta dari para korban-korbannya,” kata Kompol Budi. (wis/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *