Penerimaan Perpajakan Naik 16,2 Persen pada Kuartal I

JAKARTA (suarakawan.com) – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, realisasi penerimaan perpajakan pada kuartal I-2018 yang mencapai Rp 262,4 triliun atau 16,2 persen dari target APBN Rp 1.618,1 triliun telah menunjukkan adanya perbaikan kinerja ekonomi. Pada periode sama tahun lalu, realisasi penerimaan perpajakan tercatat hanya Rp 237,9 triliun.

Bahkan, tanpa mempertimbangkan penerimaan dari kebijakan amnesti pajak, realisasi perpajakan kuartal I-2018 itu tumbuh 16,2 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Penerimaan ini menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan. Ini menunjukkan denyut ekonomi kita mulai ada kenaikan,” kata Sri Mulyani dalam jumpa pers realisasi APBN kuartal I-2018 di Jakarta, Senin (16/4).

Karena itu, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2018 bisa mencapai 5,2 persen, lebih tinggi dari realisasi periode sama tahun lalu yang sebesar 5,01 persen. “Kuartal I 5,2 persen,” kata Sri Mulyani.

Ia optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal berikutnya akan lebih baik dari kuartal I-2018, karena dukungan momen Lebaran pada kuartal II, penyelenggaraan Asian Games pada kuartal III, dan Pertemuan Tahunan IMF-World Bank pada kuartal IV. “Kita punya momentum untuk menjaga optimisme itu, karena dari sisi pure domestik momentumnya semua positif,” ujar Sri Mulyani.

Untuk keseluruhan tahun, Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2018 berada di kisaran 5,22 persen sampai 5,41 persen. Pada kesempatan terpisah, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kuartal I-2018 sebesar 5,11 persen seiring membaiknya kondisi ekonomi sejak awal tahun. Proyeksi pertumbuhan pada kuartal I-2018 ini masih berada dalam angka perkiraan Bank Indonesia untuk pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun sebesar 5,1 persen hingga 5,5 persen. Sementara pemerintah dalam APBN 2018 menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen.

Untuk realisasi penerimaan pajak, Sri Mulyani mengatakan, pendapatan pajak tersebut sudah mencapai Rp 244,5 triliun. Ini berarti tumbuh sebesar 9,9 persen dibandingkan kuartal I-2017 atau telah mencapai 17 persen dari target APBN yang sebesar Rp 1.424 triliun.

Penerimaan pajak terdiri atas penerimaan pajak penghasilan (PPh) sebesar Rp144,3 triliun, pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) Rp 98,7 triliun serta pajak bumi dan bangunan (PBB) maupun pajak lainnya Rp 1,6 triliun.

Tumbuh Dua Digit

Hampir seluruh jenis pajak utama tumbuh dua digit antara lain PPh Pasal 21 dengan realisasi Rp 30,39 triliun atau tumbuh 15,73 persen dan PPh 22 impor dengan realisasi Rp 13,09 triliun atau tumbuh 25,09 persen. “PPh pasal 21, yang merupakan pajak yang dipotong oleh pemberi kerja, pada kuartal I-2018 tumbuh tinggi sejak 2013,” jelas Sri Mulyani.

Sementara realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai telah mencapai Rp 17,89 persen (tumbuh sebesar 15,8 persen) atau 9,2 persen dari target sebesar Rp 194 triliun. Realisasi penerimaan tersebut terdiri atas bea masuk sebesar Rp 8,41 triliun, cukai sebesar Rp 8,05 triliun dan bea keluar Rp 1,43 triliun.

Realisasi bea keluar ikut tumbuh hingga 70,38 persen kata Sri Mulyani, karena didukung oleh tumbuhnya ekspor minerba seperti konsentrat tembaga serta nikel dan bauksit hingga 261,32 persen serta penerimaan dari perusahaan Freeport sebesar Rp 308,75 miliar.

Pada kesempatan itu, Sri Mulyani juga menyampaikan realisasi penerimaan negara bukan pajak yang telah mencapai Rp 71,1 triliun (tumbuh 22,1 persen) atau sekitar 25,8 persen dari target Rp 275,4 triliun.(bs/rur)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Penerimaan Perpajakan Naik 16,2 Persen pada Kuartal I"