Pembukaan Cross Culture Meriah Namun Kurang Informatif

tari remo yang turut membuka Cros Culture

SURABAYA  (suarakawan.com) – Festival Seni Lintas Budaya (FSLB) 2011 yang ke-11 kembali diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya bekerjasama dengan Komunitas Seni di Surabaya dalam rangka melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia serta tampilan ekspresi seni tari mancanegara.

Untuk ini kali mengusung tema “Hidup Bersama dalam keselarasan yang sempurna melalui keragaman Seni dan Budaya”. Bertujuan memperkuat kerjasama yang saling menguntungkan antara daerah-daerah di Indonesia maupun dengan lain, khususnya di bidang seni budaya.

Dengan program sasaran utama, memperkenalkan daerah-daerah di Indonesia kepada dunia luar maupun sebaliknya melalui pertunjukkan seni budaya dan menjalin hubungan secara aktif dengan komunitas seni dari daerah-daerah di Indonesia dan luar negeri.

“Untuk peserta yang tampil memang tidak kami seleksi karena mereka mau datang dan tampil mengenalkan kebudayaannya saja sudah sangat berarti,
papar Kadisparta Pemkor Surabaya Wiwik Widayati, Kamis (21/07).

Peserta FSLB dari berbagai daerah dan Negara, yakni Sawahlunto (Sumbar), Pangkal Pinang (Bangka Belitung), Pekalongan (Jateng), Langsa (NAD), Lubuk Linggau (Sumsel), Padang (Sumbar), Kutai Kertaegara (Kaltim), Malang (Jatim), Busan (Korea), Xiamen (China), Guangzhou (China), Jepang, Austria, Samoa, Nauru, Italia, Solomon Island, Tonga, Timorleste, Suriname, Hongkong, Afrika Selatan, Pakistan dan India (yang kemudian mengundurkan diri).

Kegiatan FSLB di buka dengan menampilkan Festival tari Remo dan Yosakai pada Minggu (17/7) pagi hari di Taman Bungkul Surabaya yang diikuti 38 grup peserta remo kategori anak-anak dan remaja. 38 tim Yosakoi dari sekolah, sanggar tari dan universitas di Surabaya.

Sementara pembukaan Cros Culuture diadakan pada Kamis (21/7) di Exhibition Centre, Galaxy Mall Surabaya. Dibuka Walikota Surabaya, Tririsma Harini, dihadiri utusan daerah dan Negara peserta FSLB 2011. Dimeriahkan pagelaran tari dan seni kolaborasi dari berbagai grup seni dan sekolah di berbagai daerah.

Namun sayang, keindahan berbagai tarian yang disuguhkan tidak disertai semacam katalog atau narasi mengenai nama tarian, asal daerah dan bercerita tentang apa tarian tersebut.

“Saya saja yang asli Indonesia masih banyak belum paham tarian dan dari daerah mana yang disajikan,” kritik Sonya, salah satu pengunjung pembukaan Cros Culture ini.

Lebih lanjut wanita ayu berkulit putih ini berharap bahwa kedepan panitia bisa memfasilitasi dengan adanya narasi di layar yang berbahasa Indonesia dan Inggris yang menjelaskan tentang tarian yang tampil.(amel/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *