Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Pembantaian Rohingya, Presiden Turki: Dunia Islam Tidak Bereaksi

03 Sep 2017 // 08:49 // HEADLINE, INTERNASIONAL, PERISTIWA

erdogan

ISTANBUL (suarakawan.com) – Kemanusiaan menjadi tidak sensitif terhadap kekerasan yang sedang berlangsung terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Asia Tenggara, Myanmar. Hal ini diungkapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Jumat (1/9).

“Ratusan Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar terbunuh, desa mereka dibakar, dan 20 ribu orang yang terusir telah menyeberang ke Bangladesh, meninggalkan rumah mereka. Semua ini terjadi di depan mata manusia, tapi sayangnya manusia tidak peka terhadapnya,” katanya seperti dilansir Daily News.

Dia mengatakan, dunia Muslim sangat sedih merayakan Idul Adha di tengah kekerasan di Myanmar, konflik di Suriah dan Irak, dan perang melawan terorisme di Turki. Idul Adha, ujar Erdogan, yang dikenal sebagai hari raya pengorbanan, mengakui penyerahan Ibrahim kepada Tuhan dalam kesediaannya untuk mengorbankan anaknya.

“Sebagai anggota Organisasi Kerjasama Islam, saya mengadakan pembicaraan yang diperlukan dengan para pemimpin negara-negara Islam dan Sekretaris Jenderal PBB (Antonio) Guterres tentang krisis Rohingya.”

Erdogan juga mendesak dunia Muslim untuk melawan kekerasan di Myanmar. “Kami sangat menyadari bahwa masalah Arakan [Rakhine] adalah manifestasi dari perebutan kekuasaan global. Tidak ada kekuatan yang ingin menghentikan Myanmar karena kepentingan strategis kawasan telah menghalangi mereka menghentikan kejahatan kemanusiaan ini,” kata Erdogan.

Turki mencoba memberikan perhatian terhadap masalah kemanusiaan di Myanmar. “Kami mencoba untuk memobilisasi mekanisme internasional, kami melaksanakan kegiatan bantuan kemanusiaan di wilayah ini,” kata Erdogan.

Lembaga kemanusiaan Red Crescent dan the Disaster and Emergency Management Authority (AFAD), terang dia, akan terus memberikan bantuan kemanusiaan kepada Muslim Rohingya. “Tapi seringkali hasil usaha kami gagal karena dunia Islam tidak bereaksi secara keseluruhan terhadap pembantaian ini.” (rol/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini