Pasar Elektronik Nasional Mencapai Rp 83 Triliun

JAKARTA – PT GFK Retail and Technology Indonesia, lembaga riset di sektor consumer technology, merilis data nilai pasar elektronik Indonesia sepanjang 2010 mencapai Rp 83 triliun, naik 17% dibandingkan 2009. Kenaikan tersebut ditopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tahun lalu mencapai 6,1%.

Riset dilakukan pada 40 tipe produk elektronik di lima pulau di Indoensia. Lembaga riset tersebut memperkirakan, jika pertumbuhan ekonomi tahun 2011 mencapai 6,1%-6,4%, maka pasar elektronik Indonesia bisa bertumbuh hingga 20% menjadi Rp 99,6 triliun. Peralatan elektronik rumah tangga diperkirakan mencatatkan pertumbuhan penjualan tertinggi pada 2011 setelah pada tahun lalu tumbuh lebih dari 30% dibandingkan 2009.

General Manager GFK Indonesia, Guntur Sanjoyo mengatakan secara umum konsumen mulai mengubah pola pembelian elektronik saat produk domestik bruto (PDB) per kapita di Indonesia mencapai US$ 3.000. Keputusan konsumen untuk membeli peralatan rumah tangga lebih didorong kebutuhan rasional, daripada alasan gaya hidup. Perbaikan daya beli yang dikombinasikan dengan tingkat penetrasi pasar yang masih di bawah 25% menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan penjualan elektronik.

Berdasarkan riset GFK dari 40 tipe produk elektronik, lebih dari 40% nilai pasar dikontribusikan alat telekomunikasi yaitu mobile phone dan smart phone. Alasannya, fungsi mobile phone dan smart phone lebih lengkap dari sekadar alat komunikasi telepon.

Riset 2010 menyebutkan, GFK mengindentifikasi tujuh tipe produk yang mengontribusikan sebagian besar peningkatan pendapatan industri elektronik dibandingkan 2009. Smart phone dan televisi panel menduduki peringkat 1 dan 2 yang didorong pembelian replacement sebagai aktualisasi dari gaya hidup. Sedangkan pertumbuhan pasar lima tipe produk berikutnya yang merupakan produk elektronik rumah tangga didorong pasar pengguna baru, karena penetrasi pasar dari produk tersebut masih cukup rendah di Indonesia.

“Pertumbuhan elektronik cukup besar jika dilihat dari tingkat kepemilikan barang per keluarga, sebagai contoh kulkas tumbuhnya lebih tinggi sekitar 30% dan produk yang lain di bawah 20%. Asumsinya dengan pasar yang berjumlah 50 juta keluarga, hanya 15% yang punya kulkas,” katanya.

Riset tersebut juga menjabarkan, lebih dari 80% produk elektronik terjual di kisaran harga di bawah Rp 2 juta. Sedangkan untuk produk elektronik dengan harga di atas Rp 5 juta, meskipun hanya menyumbang 2% ke total pasar elektronik, tapi memiliki kontribusi sebesar 16% dari segi total pendapatan pasar elektronik. Sekitar 70% dari total pendapatan industri elektronik di segmen atas dengan kisaran harga Rp 5 juta merupakan kontribusi dari mobile computer (notebook dan netbook) serta smart phone.

Dengan melihat angka tersebut, riset menyimpulkan saat ini Indonesia memproduksi barang elektronik dengan harga di bawah Rp 2 juta maka Indonesia memiliki potensi untuk menjangkau sekitar 84% dari konsumen Indonesia.

Ketua Gabungan Elektronik Indonesia (Gabel), Ali Soebroto Oentaryo menilai meski memiliki nilai yang besar, pasar elektronik nasional masih dikuasai produk impor. Pasar elektronik nasional dikuasai 70% oleh produk impor pada 2010 sebagai dampak pemberlakuan perdagangan bebas antara ASEAN dan China (AC-FTA) yang menyebabkan produk impor dari Negeri Tirai Bambu itu bebas bea masuk jika diekspor ke Indonesia.

Kondisi itu akan menekan produsen elektronik lokal seperti Maspion, Polytron, dan Sanken. Rendahnya pangsa pasar elektronik lokal karena kalah bersaing dari segi harga dengan produk impor terutama dari China. Sedangkan dari sisi kualitas, produk elektronik lokal masih di bawah elektronik impor, terutama dari Korea dan Jepang.(ift/ara)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Pasar Elektronik Nasional Mencapai Rp 83 Triliun"