Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Pancasila Sebagai Integrasi Negara dan Agama

13 Jun 2017 // 22:46 // POLITIK & PEMERINTAHAN

IMG-20170614-WA0001

JAKARTA (suarakawan.com) – Selasa sore (13/6), bertempat di Rumah Dinas Wakil Ketua DPR RI Bidang Kokesra Fahri Hamzah, Pimpinan Nasional Keluarga Alumni KAMMI (PIMNAS KA KAMMI) menyelenggarakan Diskusi Kebangsaan dan Buka Puasa Bersama KA KAMMI dan OKP dengan tema “Pancasila Sebagai Integrasi Negara dan Agama”.

Acara ini menghadirkan Yudi Latif (Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila/UKP Pancasila) dan Fahri Hamzah (Wakil Ketua DPR RI) sebagai pembicara. Puluhan organisasi kepemudaaan lintas organisasi dan keagamaan menghadiri undangan tersebut.

Beberapa alasan, kenapa Pancasila menjadi tema dari Diskusi Kebangsaan Alumni KAMMI, yang pertama, bulan Juni adalah bulan Pancasila. Awal Juni kemarin, Presiden Jokowi sudah menetapkan sebagai Hari Kelahiran Pancasila.

Kedua, Presiden sudah melantik dan menugaskan beberapa tokoh bangsa untuk menggerakkan lembaga baru bernama Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila, dalam rangka mensosialisasikan dan memantapkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa kita, dan itu harus kita dukung bersama.

Dan yang ketiga, tema Pancasila menjadi bahan diskusi yang menarik, terutama tentang integrasi nilai agama yang menghidupkan Pancasila pada awal perumusannya.

Tema Pancasila dalam beberapa bulan ini memang seperti menjadi tema utama perbincangan di berbagai media dan diskusi aktivis dan forum politik. Tema ini menyeruak sebagai bagian dari respon bangsa ini atas kekhawatiran menipisnya pemahaman dan kesadaran kita untuk hidup berlandaskan Pancasila.

Tema Pancasila dan usaha untuk menebalkan lagi komitmen kita dalam hidup berpancasila dianggap sebagai solusi atas nampak mengentalnya komitmen keagamaan kelompok tertentu pada bangsa ini, dan itu bisa dianggap sebagai pemicu dari keretakan toleransi kita.

Walaupun di sisi yang lain, tema Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, toleransi dan keberagaman dianggap juga sebagai reaksi keliru atas sikap protes masyarakat dan agamawan pada banyak kasus pelecehan agama yang rentan memicu disharmoni kehidupan sosial kita.

Menurut banyak agamawan dan tokoh politik, masalah rakyat kita hari ini bukan kebhinnekaan, tapi keadilan. Masalah rakyat kita hari ini bukanlah hilangnya Pancasila dari kehidupan bangsa, tapi hilangnya rasa menghormati keyakinan beragaama dan tepa selira. Masalah bangsa ini bukanlah toleransi, tapi hilangnya sumber-sumber ekonomi.

Menghadirkan Yudi Latif, salah satu ilmuwan dan guru besar Pancasila bangsa ini, adalah ikhtiar yang tepat untuk merenungkan kembali esensi Pancasila dalam kehidupan berbangsa. Terutama kaitannya dengan nilai religiusitas Pancasila sebagai nilai asasi yang menggerakkan seluruh sila-silanya. Hal itu yang nampak abai dan perlu kita pikirkan kembali. (hans/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini