Pahlawan Baca Dari Lokalisasi

1 komentar 14 views

Kartono

SURABAYA (suarakawan.com) – Sejak belasan tahun silam, Kawasan Dolly di Surabaya menjadi pusat prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Berbagai aktifitas seksual dan transaksi digelar di lokasi ini tiap malam. Parahnya, lokalisasi ini berdempetan dengan pemukiman warga. Bahkan ada yang bercampur.

Dampaknya, lingkungan tempat tinggal dan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar Dolly harus “rela” menerima kenyataan ini. Tak peduli mereka memiliki anak-anak yang sejak kecil seharusnya mendapatkan pendidikan dan lingkungan yang baik.

Namun untunglah, ditengah suasana tempat yang dikenal dengan istilah “Dollywood” ini, seorang mantan mucikari merasa prihatin dengan kondisi anak-anak yang lahir dan hidup di lingkungan ini.

“Saya masuk ke dunia hitam Dolly sekitar tahun 1995. Kala itu tujuan saya hanya main-main saja,” ungkap Kartono.

Namun ajang “main-main” yang dilakukan oleh Kartono, justru berbuntut panjang. Kartono yang kala itu sudah mapan, tertarik untuk mengembagkan bisnis karaoke sekaligus mucikari di wilayah tersebut.

Namun pada tahun 2004, Kartono mulai menyadari semua yang ia lakukan salah. Pria inipun tergerak hatinya untuk membuat sebuah taman bacaan. Tepat bulan februari 2006, menempati ruang depan rumahnya, di Putat Jaya gang IIA no 36 berdirilah taman bacaannya.

Kawan kita Kartono berharap, taman bacaan ini bisa memberikan secercah harapan pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak dan PSK di sekitarnya.

“Kesadaran saya berawal dari seringnya saya ikut seminar tentang human trafficking. Disinilah saya seperti ditegur Tuhan. Untuk menebus kesalahan, bisnis karaoke dan prostitusi saya tutup dan beralih ke taman bacaan,” terangnya.

Kartono dengan susah payah membuat sebuah taman bacaan yang diberi nama “Kawan Kami” di sebuah Gang sempit Putat Jaya yang masuk di area lokalisasi Dolly. Taman bacaan ini benar-benar berada di tengah-tengah suasana gemerlap prostitusi Dolly.

Kartono berharap, tujuan mulia ini memberikan efek positif pada anak-anak dan PSK Dolly. Agar hidup mereka lebih punya makna, lebih berpendidikan, dan pada akhirnya mereka bisa hidup normal dan meninggalkan dunia hitam.

Perjuangan Kartono untuk memperbaiki kualitas pendidikan anak-anak di lingkungannya memang tak mudah. Di kanan kiri taman bacaan yang ia dirikan, masih berdiri megah tempat-tempat prostitusi yang setiap malam menggelar transaksi. Namun Kartono tak menyerah, ia yakin perjuangannya suatu saat akan membuahkan hasil.

“Meski awalnya saya sempat ditertawakan dengan keinginan saya membuat taman bacaan ini, tapi saya tetap maju terus. Pada akhirnya anak-anak di lingkungan Dolly dan PSK justru menjadi anggota taman bacaan saya,” ungkapnya.

Namun tak hanya di kawasan Dolly saja Kartono mengembangkan taman bacaan ini. Kartono juga membuat perpustakaan keliling di kawasan Wonokromo. Di daerah ini, Kartono seminggu dua kali mendatangi anak-anak dengan sepeda motor dan tas ranselnya.(jto/nas)

Satu Respon

Tinggalkan pesan "Pahlawan Baca Dari Lokalisasi"