Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Pacu Prestasi Atlet, KONI Jatim Bentuk Badiklat

28 Apr 2017 // 15:17 // ALL SPORTS, HEADLINE, OLAHRAGA

20170428_100707

SURABAYA (suarakawan.com) – Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2020 di Papua, menjadi tantangan besar bagi kepengurusan baru KONI Jatim. Ditengah ambisi merebut gelar juara umum, KONI Jatim masih buta dengan pelaksanaan PON di provinsi ujung timur Indonesia itu.

“Terus terang PON Papua menjadi tantangan. Cuma sampai sekarang saya sulit membayangkan apa tantangan yang kami hadapi nanti,” kata Ketua Umum KONI Jatim, Erlangga Satriagung kepada wartawan usai pelantikan pengurus KONI Jatim periode 2017-2021 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat (28/4).

Menurutnya, KONI Jatim masih memiliki waktu tiga tahun untuk mempersiapkan atlet. Persiapan dimulai bulan Juli 2017 dengan menggelar Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) berbasis Ilmu Pengetahuan Teknologi (Iptek).

Jika Puslatda Jatim tahun lalu berbasis Iptek dengan menerapkan tiga pilar, yaitu Fisik, gizi dan psikologi. Pada Puslatda Jatim for PON Papua ditambah satu pilar lagi, yaitu bio mekanik. “Sekarang menjadi empat pilar,” tandasnya.

Selain itu, lanjutnya, KONI Jatim membentuk Badan Pendidikan dan Latihan (Badiklat) untuk mendorong kualitas pelatih dan wasit. Badiklat ini juga mengurusi kelanjutan studi atlet, agar terjamin masa depan pendidikannya.

“Latihan terus, studinya tercecer. Kami tak ingin memacu atlet berprestasi di olahraga, pendidikannya tak terurus. Ini patut menjadi perhatian,” ujarnya.

Di sisi lain, Erlangga berharap KONI Pusat segera menetapkan jumlah cabang olahraga (cabor) dan nomor yang dipertandingkan dalam PON Papua tahun 2017 ini. Penetapan cabor dan nomor PON Papua sangat berpengaruh pada persiapan daerah.

“Ada daerah yang menggelar puslatda cabor tapi ditengah jalan akhirnya tidak dipertandingkan di PON. Betapa hancurnya semangat atlet,” ungkapnya.

Demikian pula dengan pembatasan usia atlet di PON Papua. Erlangga mendesak KONI Pusat agar segera diputuskan batasan usai. “Dulu sempat dikabarkan usia atlet 23 tahun. Tapi, baru-baru ini ada informasi dari Menpora, batasan usia atlet 23 tahun baru dilaksanalan pada PON 2024,” jelasnya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini