Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

PA GMNI Jatim Siapkan Konsep Pembangunan Ekonomi Kedepan

05 Jun 2017 // 11:20 // EKONOMI, HEADLINE

20170602_222101

SURABAYA (suarakawan.com) – Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jatim memiliki komitmen atas perjuangan demi kemajuan Provinsi Jatim. Siapapun Gubernur terpilih nanti, PA GMNI Jatim siap memberikan kontribusi pembangunan Jatim kedepan dengan program-program yang sudah digodok secara matang.

“Kita sudah menggelar diskusi awal perumusan konsep pembangunan Jatim kedepan. Misalnya di bidang ekonomi. Konsep ini yang akan kita berikan kepada gubernur terpilih nanti,” kata Ketua DPD PA GMNI Jatim kepada wartawan di Surabaya, Senin (5/6).

Diskusi awal yang digelar PA GMNI Jatim melibatkan beberapa alumni GMNI yang berlatar belakang ekonomi di Surabaya, pekan lalu. Mereka antara lain Putut Sri Mulyo (Direktur BJTI), Sasongko Budisusetyo (Anggota Dewan Pakar DPD PA GMNI Jatim), Teguh (Dirut RPH Surabaya), Ony Setiawan (Sekretaris DPD PA GMNI Jatim) dan beberapa alumni GMNI lainnya.

Hadir pula Anggota Fraksi Demokrat DPRD Jatim, M Reno. “Ini adalah langkah awal dalam mengkonsolidasikan kader dan pemikiran alumni GMNI di Jatim,” ujar Nurwiyatno.

Tidak dipungkiri sejak kepemimpinann Gubernur Jatim selama 2 periode 2009-2014 dan 2014-2019 membawa kemajuan di berbagai bidang kehidupan, baik ekonomi, sosial, budaya, maupun kehidupan demokrasi. Kinerja yang merupakan representasi kepemimpinan Jatim dimaksud diapresiasi baik oleh Pemerintah, NGO, Media dan secara teknokrat teridentifikasi secara kuantitas pada lembaga resmi seperti BPS.

Dalam brain storming tersebut, Nurwiyatno menyampaiakan beberapa hal yang berkaitan dengan kemajuan ekonomi Jatim, selain juga keinginannya untuk meningkatkan program yang mungkin belum sempat terealisasi pada masa kepemimpinan gubernur saat ini.

Dia memberi contoh, pertumbuhan ekonomi daerah yang tumbuh lebih cepat dari Nasional sejak 2009 5,01 persen dan 2016 posisi 5,55 persen, masih menyisakan persoalan terhadap beberapa faktor fundamental. Pertama, dukungan investasi PMA dan PMDN yang kurang signifikan. Kedua, permintaan barang dan jasa (ekspor) keluar negeri yang masih defisit 25,30 Triliun.

Persoalan ketiga, masih tingginya porsi konsumsi masyarakat mencapai 59,75%. Keempat, melambatnya sektor industri pengolahan Nasional dengan berbagai persoalan seperti masih tingginya impor bahan baku dan penolong yang mencapai 80,19 %.

Persoalan kelima adalah struktur ekonomi yang sudah bergeser dari Primer (pedesaan/rural) ke sekunder dan tertier (perdagangan dan industri). “Kedepan pemerintah harus mampu melebihi (minimal sama) dengan kebijakan trobosan yang telah dilakukan oleh gubernur Soekarwo (Pakde Karwo),” tandasnya.

Dijelaskan, ada tiga kebijakan terobosan yang dilakukan Pakde Karwo selama ini. Yang pertama, mensuport investasi PMDN Non fasilitas (Investasi UMKM) karena permintaan barang dan jasa (ekspor) ke luar negeri yang masih defisit 25,30 Triliun justru meningkatkan permintaan dalam negeri yang didominasi doleh produk UMKM, sehingga produk UMKM surplus mencapai 100,56 triliun.

Kemudian, persoalan masih tingginya impor bahan baku dan penolong yang mencapai 80,19 % harus terus dikurangi dengan memanfaatkan pasokan bahan baku dalam negeri yang merupakan peluang bagi daerah untuk mengisi kekosongan produk tersebut.

Kedua, dengan meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM.melalui pendidikan, untuk mengantisipasi pergeseran Struktur ekonomi yang sudah bergeser dari Primer (pedesaan/rural) ke sekunder dan tertier (perdagangan dan industri).

Ketiga, yaitu fakta struktur tenaga kerja pertanian sebesar 36,49% dengan kontribusi PRB sebesar 13,31% merupakan persoalan yang kedepan semakin perlu terus melanjutkan desain strategi sebagaimana yang saat kepemimpinan sekarang telah melakukan terobosan hebat dan baru satu-satunya yaitu melalui Model Loan Agreement (memijamkan APBD Prov Jawa Timur) ke PT Bank Jatim dengan hanya meminta gain 2%.

“Pembiayaan pembangunan yang saat ini dihadapkan pada keterbatasan pendanaan pemerintah, mau tidak mau, DESAIN FISCAL POLICY “EFISIENSI” menjadi bagian penting dalam mengkonstruksi model pembiayaan pembangunan,” paparnya.

Menurutnya, beberapa persoalan sosial seperti, kemiskinan yang saat ini masih 11,85% di September 2016, pengangguran yang masih pada posisi 4,10% posisi Februari 2017, disparitas wilayah yang masih berada pada posisi sedang dan tantangan Globalisasi dengen sederet “paham efisiensi”, masih memerlukan perhatian khusus pemerintah kedepan, meski hingga saat ini pemerintah provinsi jatim dirasa masih mampu menanganinya.

“Atas dasar beberapa pemikiran itu, saya mengajak beberapa alumni GMNI untuk bersama masyarakat lainnya ikut membantu memikirkan beberapa alternatif kebijakan yang dapat dipakai oleh pemerintahan kedepan,” tuturnya. (Bng/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini