Omzet Buku Bekas “Kampoeng Ilmu” Tak Terpengaruh Tahun Ajaran Baru

kampoeng ilmu

SURABAYA (suarakawan.com) – Beberapa tahun yang lalu, menjelang tahun ajaran baru seperti sekarang ini adalah momen yang ditunggu para pedagang buku bekas dikawasan jalan Semarang.

Pasalnya, di kala itu banyak orang tua dan pelajar yang berburu buku buku pelajaran bekas yang masih layak pakai guna melanjutkan pendidikan di jenjang berikutnya dengan harga yang terjangkau.

“Tapi kalau sekarang sudah sepi mas. Pembeli buku pelajaran jauh menurun,” ujar Budi (36), salah satu penjual buku bekas jalan Semarang yang sekarang tergabung dalam kawasan Kampoeng Ilmu, Senin (04/07).

Namun demikian, bukan berarti pasar mereka mati. Setelah direlokasi dalam wisata buku Kampoeng Ilmu yang dilengkapi beragam fasilitas seperti kamar kecil, mushala dan gazebo, jumlah pengunjung masih tetap banyak.

“Hanya sekarang prioritasnya beda. Yang cukup membantu adalah hadirnya pelanggan dari kalangan mahasiswa. Kan buku materi untuk mahasiswa tiap tahun tak terlalu sering berubah. Beda sama tingkat SD sampai SMA yang tiap tahun bukunya berubah,” keluh Budi seolah menyindir kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.

Selain buku diktat untuk materi kuliah, menurut Budi yang masih banyak peminatnya adalah pencari novel atau majalah bekas. Terutama majalah anak-anak bekas. (jto/nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Omzet Buku Bekas “Kampoeng Ilmu” Tak Terpengaruh Tahun Ajaran Baru"