Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Olahraga Ini Sulit Berkembang di Indonesia

11 Nov 2017 // 20:33 // ALL SPORTS, HEADLINE, OLAHRAGA

equestrian-720x340

JAKARTA (suarakawan.com) – Olahraga equestrian atau ketangkasan berkuda masih sulit berkembang. Itu karena olahraga ini masih dinilai sebagai cabang yang mahal dan hanya bisa dijangkau oleh atlet dari kalangan keluarga yang mampu.

Tanto Sri Hartono, pemilik Zaganosh Stable, tak membantah hal tersebut. Harga kuda tunggangan saja bisa mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah.

“Image-nya memang seperti itu. Atlet ketangkasan berkuda ini dari keluarga yang mampu,” ujarnya di sela-sela acara Zaganosh Open 2017 di lapangan pacuan kuda, Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (11/11).

Tanto menyadari, olahraga berkuda tak setenar olahraga lain seperti bulutangkis atau sepakbola. Olahraga tersebut tergolong mudah, karena hanya perlu bola atau raket sudah bisa bermain.

“Olahraga berkuda mengharuskan ada lapangan khusus berkuda. Tanpa ada lapangan tidak bisa dimainkan,” ucapnya.

Yang lebih buruk lagi, olahraga berkuda khususnya pacuan kuda, terkadang berbau judi, sehingga punya citra yang kurang baik. Padahal lomba ketangkasan kuda baik dressage dan jumping sangat jauh berbeda dengan pacuan kuda.

“Bukan hanya skill yang bagus yang dimiliki atlet. Namun juga kuda juga bagus serta ada ikatan emosi antara atlet dan kuda yang ditungganginya. Itu yang bikin sulit menjadi atlet equestrian,” tuturnya.

Saat ini kata Tanto sudah banyak stable (kandang kuda) di daerah yang memiliki kuda yang bagus. Sekarang, apakah pemilik stable ini punya komitmen atau tidak untuk melahirkan atlet equestrian. Apalagi, atlet harus dididik dari usia dini bahkan sejak kelas tiga sekolah dasar.

“Melalui Zaganosh Open 2017 ini akan kita ketahui mana saja stable di daerah yang sudah siap melahirkan atlet equestrian,” ucapnya.

Lebih jauh, Tanto mengatakan dengan semakin banyaknya stable yang ada di daerah maka terbuka kesempatan bagi orang tua untuk mendorong anaknya berlatih menjadi atlet equestrian hanya dengan membayar bulanan.

“Untuk kebutuhan kuda dan lapangan pacuan kuda juga sudah disiapkan pemilik stable,” katanya.(viv/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini