Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Nestapa Anak-anak Rohingya Kehilangan Keluarga

24 Sep 2017 // 19:02 // HEADLINE, INTERNASIONAL, PERISTIWA

5-rohingya-hantu

JAKARTA (suarakawan.com) – Ruang Ramah Anak (CFS) di kamp pengungsi Kutupalong di Cox’s Bazar penuh dengan aktivitas. Lebih dari 60 anak sibuk mewarnai, menggambar dan bermain.

Namun Rasyid hanya terdiam. Suaranya yang lemah sering ditenggelamkan oleh suara rebana yang dimainkan anak-anak dengan antusias.

Rashid yang baru berusia 10 tahun harus memikul tanggung jawab yang berat karena kematian orang tuanya. Rashid harus merawat adik perempuannya yang berusia enam tahun, Rashida.

Rashid dan Rashida termasuk di antara sekitar 1.400 anak-anak Rohingya yang tiba di Bangladesh tanpa orang tua mereka. Orang tua mereka terbunuh atau hilang setelah tindakan militer brutal di negara bagian Rakhine bagian barat.

Rashid masih bersedih atas kematian ayah dan ibunya. Menurutnya, kedua orang tuanya dibunuh oleh militer Myanmar. Saat masih di Maungdaw, Rashid tinggal bersama orang tuanya dan enam saudara kandung.

“Saat itu saya meraih tangan kakak perempuan saya dan berlari menuju bukit terdekat. Setelah tentara pergi, saya kembali menemukan orang tua saya meninggal,” katanya.

Akhirnya Rashid kembali ke bukit dan melakukan perjalanan menuju Bangladesh bersama tetangganya. “Saya berjalan selama tiga malam untuk mencapai perbatasan Bangladesh. Saya menyeberangi sungai Naf untuk memasuki Bangladesh sehari sebelum Idul Fitri,” katanya.

Rashid tidak tahu tentang keberadaan saudara kandungnya yang lain. Namun, banyak orang yang mengatakan bahwa semua saudara laki-laki dan perempuannya telah terbunuh. Sekarang Rashid dan adiknya tinggal bersama tetangganya.

Faria Selim, spesialis komunikasi di UNICEF Bangladesh mengatakan, Rashid selalu datang setiap beberapa menit dan mengatakan orang tuanya telah meninggal. “Dia sedikit mereda dalam beberapa hari terakhir setelah dia datang ke sini,” katanya.

Rashid telah keluar dari sekolahnya di Myanmar, tapi dia menyukai CFS, yang buka enam hari dalam sepekan. “Di sini tidak ada kesempatan untuk diserang, tidak ada yang mengawasi kita Semua orang bebas melakukan apapun,” kata Rashid. Rashid ingin menjadi guru sehingga nantinya bisa mengajar anak-anak Rohingya lainnya

Kisah lainnya datang dari Dilara Begum (11) dan Ajija Begum (9). Mereka juga telah kehilangan orang tua. Dilara masih shock atas kejadian tersebut dan nyaris tidak berbicara.

“Tepat sebelum makan siang, ibu saya Hamida Begum meminta saya untuk bermain di tempat rumah kami sehingga ayah saya bisa bersiap untuk bekerja,” kata Ajija.

Saat Ajija sedang bermain dengan saudara perempuannya Dilara dan Mushtakim dia mendengar suara tembakan. Mereka akhirnya berlari ke semak-semak dekat rumah mereka di desa Bargojibil di Maungdaw. Bersembunyi di balik semak, Ajija melihat militer menembaki orang tuanya.

Ajija tidak kembali dan dalam kekacauan, dia kehilangan saudara perempuannya. “Di daerah bukit, tetangga saya menawari saya tumpangan setelah mendengar orang tua saya terbunuh,” katanya.

Dia bertemu dengan saudara perempuannya di kamp di Kutupalong. Mushtakim, yang secara mental masih mengalami kesedihan mendalam, sekarang pulih dari luka cedera peluru. Delapan dari saudara kandungnya juga terbunuh dalam serangan tersebut.

Kembali ke Myanmar, Ajija sering menghindari pergi ke sekolah saat tentara secara teratur berkunjung ke sana. Dilara tidak pernah bersekolah.

“Saya senang berada di Bangladesh karena tidak ada rasa takut terbunuh, saya telah membuat banyak teman di sini, saya memiliki waktu yang lebih baik,” kata Ajija.

Dilara, yang hampir tidak berbicara selama percakapan tersebut, mengatakan bahwa Mushtakim menginap di pondok kumuh.(rol/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini