Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Nenek 91 Tahun Menangi Kontes Ratu Kecantikan

27 Jul 2017 // 14:11 // HEADLINE, INTERNASIONAL, PERISTIWA

_97069187_kristina

CONNECTICUT (suarakawan.com) – Krystyna Farley adalah seorang ratu kecantikan berusia 91 tahun di negara bagian Connecticut, AS, namun perjalanan hidupnya tak selalu glamor seperti kontes kecantikan yang diikutinya.

Meski ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang di rumahnya di pedesaan Polandia, masa kecilnya terputus oleh pecahnya Perang Dunia Kedua. Dan inilah kisahnya.
“Kulit saya sudah cantik,” kata Krystyna Farley. “Jadi saya tidak memakai riasan apapun, hanya lipstik – itu saja.

Krystyna, yang akan berulang tahun ke 92, memenangkan kontes Ms Connecticut Senior America pada usia senja.

“Orang-orang berpikir bahwa jika Anda sudah berusia di atas 60 tahun, maka Anda sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi – itu tidak benar,” tutur Krystyna, menggambarkan apa yang ia sukai dari kontes-kontes kecantikan.

“Anda menunjukkan kepada orang-orang bahwa Anda masih hidup dan Anda masih bisa melakukan berbagai kegiatan – Anda bisa menari, Anda bisa menjahit, Anda bisa melukis, Anda bisa melakukan apapun yang Anda inginkan.”

Krystyna optimis dan menikmati kehidupan yang sungguh luar biasa, mengingat pengalaman yang mengerikan masa remajanya.

Masa remaja yang suram

Ia lahir di Polandia timur pada tahun 1925, merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Keluarganya tinggal di tanah seluas 35 hektar yang diberikan ayahnya sebagai imbalan atas dinas militernya selama Perang Dunia Pertama, di sebuah rumah yang dikelilingi oleh pohon-pohon ceri.

“Hidup saat itu sangat menyenangkan karena kami tidak memiliki berbagai kekhawatiran,” kenang Krystyna. “Kami masih muda dan kami selalu bersenang-senang.”

Tapi saat Krystyna berumur 14 tahun, Jerman dan Uni Soviet menyerbu Polandia yang memicu Perang Dunia Kedua.
“Pada tahun 1940 kami sekeluarga ditangkap,” kata Krystyna.

Krystyna dan keluarganya, seperti ratusan ribu orang Polandia lainnya, ditangkap pada malam yang sangat dingin oleh militer Rusia dan polisi Ukraina dan diangkut ke dalam kereta ternak, untuk ikut dalam perjalanan selama sebulan ke hutan-hutan yang dipenuhi salju di kawasan pegunungan Ural.

“Keretanya tidak memiliki jendela,” kata Krystyna.

“Hanya ada lubang kecil di kamar mandi dan kompor batubara di sudut kereta, dan itulah yang terjadi. Ada sekitar 60 orang di setiap gerbong dan yang harus kami makan hanyalah roti.”

Keluarga Krystyna dipaksa untuk bekerja untuk menebang pohon di sebuah kamp kerja paksa Rusia dengan makanan terbatas.

“Kami tidak memikirkan hal lain selain makanan,” kenang Krystyna. “Kami tidak punya apapun untuk dimakan, hanya roti hitam.”

Selama dua tahun keluarganya menghabiskan masa-masa yang mengerikan di sana, sampai Jerman menyerang Uni Soviet pada tanggal 22 Juni 1941.

Stalin, yang membutuhkan sekutu sebanyak mungkin, tiba-tiba melepaskan puluhan ribu tawanan perang Polandia, termasuk Krystyna dan keluarganya.

Ayah Krystyna, Andrzej, bersama ribuan orang lainnya, bergabung dengan pasukan baru, Angkatan Darat Polandia di pengasingan. Tapi semua perempuan dan anak-anak ditinggalkan dan sejak Hitler menyerang Polandia timur mereka tidak dapat kembali ke rumah mereka.

Krystyna, ibunya Walentyna, beserta saudara-saudara kandungnya masuk berjejalan ke sebuah kapal yang berisi orang-orang yang sakit dan kekurangan gizi lalu berlayar melintasi Laut Kaspia, untuk mencari pekerjaan memetik kapas di dekat ibukota Uzbekistan, Tashkent.

Di sana makanan cukup terjamin mereka bisa memakan roti, buah blackberry, keju keras dan melon kering. Namun, kehidupan masih dirasa berat, jadi Walentyna membuat keputusan yang menyedihkan yaitu mengirim anak-anaknya – kecuali anak sulungnya, Alice, yang sudah terlalu tua – ke panti asuhan orang-orang Persia yang didirikan oleh Angkatan Darat Polandia di pengasingan.

Untuk mencapai Iran, anak-anak tersebut berangkat dengan kapal yang melintasi Laut Kaspia dan kemudian bergabung dengan sebuah konvoi truk dalam perjalanan ke selatan kota Teheran. Mereka tidak tahu bahwa mereka tidak akan pernah lagi melihat ibu atau kakak perempuannya.

Merintis karir di militer

Setelah mereka mengalami masa-masa suram di Rusia dan Uzbekistan, kehidupan di Teheran semakin membaik. Ada tempat tidur yang bersih dan banyak makanan – tapi Krystyna sakit parah.

Ia diyakini sudah meninggal, jasadnya dikirim ke kamar mayat, dimana ada seorang perawat yang kebetulan melihat Krystyna masih bergerak dan menyadari ternyata ia masih hidup.

“Saya menderita pneumonia di dua sisi paru-paru saya,” kata Krystyna. “Saya sudah setengah mati, jadi saya tidak terlalu banyak mengingat di Teheran.”

Ketika ia sudah sembuh, Krystyna mengatur agar adik laki-lakinya, Teddy dan Chester, bisa bergabung dengan calon prajurit dan mengirim adiknya, Natalie, yang baru berusia delapan tahun, ke sebuah panti asuhan di Afrika. Kemudian ia mendaftarkan diri di Angkatan Darat Polandia di pengasingan.

“Saya ingin menjadi sopir tentara agar bisa mengendarai mobil,” jelasnya. “Itu kebodohan saya sendiri – Anda lihat jika Anda masih muda, Anda bodoh.”

Krystyna baru berusia 18 tahun, tapi ia berbohong dengan usianya, karena usia minimum untuk bergabung dengan tentara adalah 19 tahun. Namun, ia tidak terpilih menjadi sopir militer, dan malah dikirim untuk memberikan pelatihan sebagai asisten perawat di Irak.

Karir militernya selama lima tahun -yang membuatnya dianugerahi medali oleh Raja George- membawanya ke Mesir, dan kemudian ke Irak, di mana ia bertemu kembali dengan ayahnya. Kemudian mereka berdua bersama-sama ditempatkan di Yerusalem.

“Saya senang, tapi Anda tahu, jika Anda masih muda, Anda benar-benar hanya memikirkan makanan dan uang, bukan keluarga,” aku Krystyna.

“Jadi saya datang menghampirinya hanya untuk mengatakan, ‘Pak, apa kamu punya uang?’ Dan saya lihat dalam sakunya ada banyak uang, jadi saya mengambilnya sedikit karena kami hanya ingin membeli peralatan untuk berdandan dan berias. ”

Krystyna dan ayahnya termasuk di antara pasukan yang melintasi Laut Tengah di bawah ancaman para pengebom Nazi untuk bergabung dalam pertempuran di puncak bukit Monte Cassino, selatan Roma.

Bertemu calon suami

Saat sedang memperban dan mengoperasi serdadu-serdadu yang terluka di puncak bukit, Krystyna bertemu dengan seorang pria yang menjadi suami pertamanya – seorang tentara bernama Stanley Slowikowski – yang dikirim ke bangsalnya dengan mengalami cedera kaki.

Ketika perang berakhir, Krystyna dan Stanley menetap di Inggris, dan di sanalah keluarga Krystyna akhirnya bersatu kembali – ayah, saudara laki-laki dan adik perempuannya.

Krystyna kemudian mengetahui bahwa ibunya meninggal karena malaria. Tidak ada yang pernah mendengar kabar tentang kakak perempuannya, Alice, yang juga tinggal di Uzbekistan.

“Saya pikir kakak saya masih hidup, jika dia sehat seperti saya,” kata Krystyna.

Krystyna dan Stanley memiliki tiga anak tapi Stanley pemabuk berat, kemungkinan akibat pengalamannya dalam perang, dan Krystyna menjadi janda pada tahun 1949, meninggalkannya dengan tiga anak yang masih kecil-kecil dan sedikit uang.

Ia mulai mengajar menari untuk anak-anak yang sudah ia pelajari saat masih kecil, dan pada tahun 1953 rombongan tariannya diundang untuk tampil di acara penobatan Ratu Elizabeth, mengenakan kostum yang telah dirancang dan dibuat Krystyna.
Sebelum meninggalkan Inggris, Krystyna memiliki anak lagi, bernama Elizabeth.

Calon ayah anaknya telah melamarnya, tapi ia belum siap untuk menikah lagi, dan mengatakan bahwa rasa kepenasarannya telah membawanya ke AS, ia pun tiba di sana pada tahun 1955 mengenakan mantel bulu, serta beberapa ratus dolar di dompetnya dan membawa empat anak-anaknya yang masih kecil.

Di sana Krystyna membangun kehidupan baru untuk dirinya dan anak-anaknya, bekerja bertahun-tahun sebagai seorang ahli kebersihan gigi.

Ia menikah kembali pada tahun 1956 dan memiliki anak perempuan lagi, bernama Eva.

Baru setelah berusia 50-an, Krystyna bertemu dengan pria yang ia gambarkan sebagai cinta dalam hidupnya, Ed Farley. Mereka menikah pada tahun 1979 dan sejak itu mereka tidak dapat dipisahkan.
Mengikuti ajang kontes kecantikan
Krystyna sangat aktif di komunitas Polandia di Connecticut.

“Saya bergabung dengan berbagai jenis perkumpulan,” katanya. “Saya mengajarkan anak-anak tarian rakyat Polandia, dan saya membawa kelompok ke Polandia ke festival tarian internasional.”

Namun di usianya yang sudah senja, ia juga mengikuti berbagai kontes kecantikan di Amerika, dengan mengikuti kompetisi Ms Connecticut Senior America untuk pertama kalinya pada usia 70 tahun.

Saat itu ia menempati urutan kedua. Beberapa tahun kemudian, upayanya membuahkan hasil, dia meraih juara pertama dalam kontes kecantikan. Lalu ia dinobatkan sebagai ratu kecantikan pada tahun 2016.

“Anda harus berdandan, Anda harus memiliki bakat, lalu Anda memiliki gaun, dan Anda harus membicarakan filosofi hidup Anda,” kata Krystyna menjelaskan.

“Saya punya tiga atau empat bakat yang berbeda – saya bisa membaca puisi, saya bisa menari, saya bisa menyanyi seperti Carmen Miranda,” katanya, merujuk pada penyanyi yang terkenal dengan lagunya yang berjudul Chica Chica Boom Chic.

“Dan filosofi hidup saya adalah mencintai semua orang dan baik kepada semua orang.”

“Anda harus mencintai orang-orang dan bergaul dengan orang lain, karena jika Anda tidak memiliki teman-teman di sekitar Anda, Anda seperti seekor merpati yang mati.”

Di acara final kontes kecantikan Ms America Senior tahun lalu, Krystyna bersaing dengan 44 ratu negara bagian lainnya – dan mengalahkan seorang perempuan yang berusia 30 tahun lebih muda darinya.

Ia menyerahkan mahkota Ms Senior Connecticut-nya kepada juara kontes 2017 pada bulan Mei dan, jelang ulang tahunnya yang ke 92 tanggal 19 Agustus nanti, ia mengatakan mungkin saatnya untuk menggantungkan tiaranya untuk selamanya.

“Tidak ada lagi kontes kecantikan untuk saya,” katanya.

Tapi dengan sembilan cucu, empat cicit, ia punya banyak kegiatan yang membuatnya sibuk.

“Saat ini saya masih berdandan, saya memakai anting-anting – saya selalu siap menghadapi sesuatu,” kata Krystyna.

“Tentu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi saya selalu siap.” (bbc/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda




  • Terkini