Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Negara Ini Terancam Diserang Nyamuk dan Kutu Pembawa Penyakit Mematikan

22 Sep 2017 // 15:30 // HEADLINE, INTERNASIONAL, PERISTIWA

patung-liberty

JAKARTA (suarakawan.com) – Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperingatkan nyamuk pembawa penyakit mematikan seperti Zika, demam berdarah, dan penyakit demam kuning bisa menyerang tiga perempat wilayah daratan Amerika Serikat.

CDC sebelumnya sudah memperingatkan, perubahan iklim bisa mempengaruhi kesehatan manusia dalam berbagai cara termasuk meningkatnya jumlah nyamuk dan kutu pembawa penyakit.

Dalam jurnal ilmiah diterbitkan Journal of Medical Entomology, tercantum peta memperlihatkan wilayah-wilayah AS yang bisa menjadi tempat dua jenis nyamuk, Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus, bertahan hidup.

Sebuah studi mengungkapkan, sekitar 71 persen wilayah kabupaten di 48 negara bagian bisa menjadi tempat yang sesuai bagi nyamuk itu berkembang biak.

“Kami menemukan Aedes aegypti dan albopictus bisa muncul di kabupaten-kabupaten yang membuat mereka berkembang biak,” kata pernyataan dalam jurnal itu.

Dr Rebecca Eisen, peneliti di CDC, mengatakan peta itu memperlihatkan prediksi terbaik tempat kedua nyamuk itu berkembang.

“Dengan kata lain, peta ini memperlihatkan wilayah-wilayah tempat Aedes aegypti dan albopictus bisa bertahan hidup dan berkembang biak,” kata Eisen.

Meski begitu para ahli menyebut peta itu tida memperlihatkan di lokasi mana yang paling berisiko terkena serangan virus mematikan.(mer/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini