Nasib Orang Kecil Di Taman Bungkul

Pengasong Taman Bungkul

SURABAYA (suarakawan.com)-Nasib orang kecil dimanapun selalu terpinggirkan oleh penguasa. Demikian pula nasib puluhan PKL yang setiap hari mengadu nasib di Taman Bungkul Surabaya.

Demi mengais rupiah yang terkadang hanya belasan ribu rupiah, mereka harus kerja keras sejak pagi hingga malam. Tanpa kenal lelah mereka menjajakan berbagai makanan, minuman dan mainan anak kepada para pengunjung.

Namun sayang, upaya mereka mengais uang halal yang sejatinya juga membantu pemerintah dalam hal pengangguran juga memenuhi kebutuhan pengunjung saat dahaga terasa, ternyata direspon berbeda oleh pemerinta kota Surabaya melalui satpol PP.

Sebagaimana suarakawan.com saksikan, bak orang yang tak berguna, petugas satpol PP Pemkot Surabaya mengusir sejumlah pedagang yang tengah menawarkan dagangannya kepada pengunjung di kawasan bundaran taman bungkul, Jumat malam (10/06).

Merry (45), warga Pandegiling yang sudah 3 tahun berjualan minuman seduh seperti kopi dan teh mengaku bahwa aturan satpol PP tentang PKL di Taman Bungkul berubah-ubah.

“Dari dahulu kami boleh berjualan asal mengasong. Kami mau mengikuti. Tapi malam ini kok dilarang berjualan sama sekali di lokasi ini. Kami disuruh berjualan di belakang taman. Lantas siapa yang mau beli karena di belakang taman sudah ada pujasera,” keluh Merry.

Keluhan senada juga diungkapkan Wiwik (30) warga Karang Menjangan yang sudah berjualan sejak Taman Bungkul baru direnovasi tahun 2002 silam.

Menanggapi keluhan pengasong ini, Sumarno, kepala regu satpol PP yang bertugas jaga mengaku bahwa dirinya hanya menjalankan perintah dari atasan saja bahwa sejak dulu PKL maupun pengasong dilarang berjualan di kawasan Taman Bungkul.(jto/nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *