Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

MUI: Tindakan Persekusi Tidak Dibenarkan Agama

04 Jun 2017 // 11:20 // HEADLINE, RELIGI ISLAMI

mui

JAKARTA (suarakawan.com) – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid memberikan pernyataan mengenai aksi perkusi yang belakangan marak terkahir. Persekusi adalah sebuah tindakan pemburuan secara sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga untuk disakiti atau dipersulit hak-haknya, bertentangan dengan hukum negara dan ajaran agama.

“Tindakan persekusi yang dilakukan dengan cara tidak manusiawi, menimbulkan penderitaan baik fisik maupun psikis terhadap orang lain adalah bertentangan dengan hukum dan tidak dibenarkan oleh agama,” kata Zainut di Jakarta, seperti diberitakan Minggu (4/6).

Ia menjelaskan jika tindakan penertiban warga pengguna internet yang mengunggah ujaran kebencian, fitnah maupun penghinaan hanya boleh dilakukan oleh pihak yang berwenang. Persekusi tidak boleh dilakukan oleh kelompok masyarakat manapun.

Zainut menyatakan jika MUI mengimbau kepada masyarakat untuk menghentikan aksi persekusi. MUI menyerukan jika ada kelompok masyrakat yang ingin menjalankan dakwah tidak boleh melanggar hukum.

Menurut Zainut, MUI meminta aparat berwajib segera menindak tegas para pelaku persekusi yang telah terbukti melanggar hukum.

“Bermuamalah di media sosial sebagai bagian dari pelaksanaan hak berekspresi warga negara harus dilandasi dengan nilai-nilai etika, akhlak mulia, norma susila dan agama,” kata Zainut.

Bagi Zainut, unggahan di media sosial tidak bakal menimbulkan masalah bagi pihak lain jika disampaikan secara santun dan rasa saling menghormati orang lain.

Seperti diketahui, polisi kini telah menangkap dua orang sebagai tersangka dalam kasus persekusi terhadap PMA. Mereka bernama Abdul Majid (22) dan Mat Husin alias Ucin (57). Polisi juga masih memburu koordinator yang melakukan aksi persekusi tersebut. (ski/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini