MUI Jatim : Jasa Penukaran Uang Itu Riba Dan Dosa

jasa penukaran uang di pinggir jalan

SURABAYA (suarakawan.com) – Jasa Penukaran uang di jalan raya semakin marak beredar hingga terjadi pemalsuan ini selalu dianggap riba dan berdosa baik pihak pembeli maupun penjual oleh MUI.

“Berdasarkan hukum fiqih kedua belah pihak sama-sama berdosa, karena sama halnya dengan kasus suap, yang menyuap maupun yang disuap sama-sama berdosa,” ujar Ketua MUI Jatim, KH, Abdussomad di Surabaya, Senin (08/08).

Dikatakannya, beradasarkan hukum Fiqih Mualamah, dalam penukaran barang haruslah sama tidak boleh dilebihkan atau kurangi. Contohnya, ada beras 2 kilo dalam kondisi baik akan ditukar dengan beras 1 kilo dalam kondisi jelek. Hal itu tidak dibenarkan. Seharusanya, beras yang 2 kilo dalam kondisi jelek harus dijual terlebih dahulu baru kemudian dibelikan beras yang berkualitas baik, berapapun hasilnya. “Intinya menukar barang harus sama jangan ditambahi atau dikurangi,”tegasnya

Maka itu ia menghimbau kepada masyarakat untuk tidak menggunakan jasa penukaran uang di pinggir jalan. Masyarakat diminta menggunakan jasa perbankan yang menyediakan jasa penukaran. “Sayang khan di bulan puasa ini masyarakat berbuat dosa,” ujarnya.

Selain itu, kepada Bank penyedia jasa penukaran uang pecahan juga diminta untuk tidak mempersulit masyarakat yang ingin memiliki uang pecahan itu. “Dengan ditukar di Bank khan tidak ada yang dirugikan,” ujarnya. (aca/nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "MUI Jatim : Jasa Penukaran Uang Itu Riba Dan Dosa"