Mitos-mitos Seputar Kehamilan

Tidak ada komentar 63 views

NEW YORK (suarakawan.com) – Banyak yang bilang perempuan hamil akan mengalami berbagai perubahan besar dalam hidupnya. Mulai dari harus makan dua kali lebih banyak hingga tidak boleh naik pesawat. Namun, apakah ini benar? Berikut sejumlah mitos tentang kehamilan.

Makan dua kali lebih banyak
Secara ilmiah ternyata perempuan tidak memerlukan banyak kalori tambahan tatkala hamil, bahkan pada trimester ketiga kehamilan.

Jika biasanya perempuan direkomendasikan mengonsumsi 2.000 kalori per hari, maka jika hamil mereka hanya perlu menambah 200 kalori. Jumlah itu setara dengan sebuah roti bagel atau sesendok makan mayones!

Calon ibu juga bisa tetap melanjutkan diet mereka sehari-hari, tanpa mengurangi tumbuh kembang calon bayi. Intinya, diet makanan sehat biasa -yang tentunya tidak bertujuan menurunkan berat badan- akan menguntungkan ibu dan bayi.

Dari penelitian terhadap 7.000 perempuan yang tetap melanjutkan pola makan biasa mereka ketika hamil ternyata mengalami kenaikan berat badan yang 3,84 kg lebih rendah dibandingkan dengan perempuan hamil yang mengubah pola makan.

Dalam studi ini terlihat bahwa, berat bayi baru lahir dari calon ibu dengan pola makan biasa tidak berbeda dengan ibu yang makan dua kali lebih banyak. Bahkan, makan wajar bisa mengurangi risiko preeklamsia, penyakit tekanan darah yang kerap muncul sebagai salah satu efek dari kehamilan.

Nyeri haid hilang

Banyak yang bercerita bahwa nyeri perut saat haid akan sirna setelah melahirkan. Rasa sakit yang dialami ketika haid sebenarnya berbeda-beda antara perempuan, bahkan pada sebagian perempuan yang “beruntung”, yaitu yang jarang atau tidak pernah merasakan nyeri haid sama sekali.

Berdasarkan hipotesis, nyeri haid akan berkurang seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia.

Pada 2006, sebuah tim di Taiwan melakukan penelitian pada perempuan berusia di atas 40 tahun, dan memang menemukan fakta bahwa nyeri yang mereka alami berkurang seiring penuaan, bahkan bagi mereka yang tidak memiliki anak.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan baru, apakah sebenarnya pertambahan umur atau karena faktor melahirkan yang membuat nyeri berkurang.

Untuk mencari tahu jawabannya, tim tersebut meneliti 3.500 perempuan selama delapan tahun.

Sepanjang waktu itu, ada yang melahirkan, dan mereka kemudian merasakan nyeri haidnya berkurang. Namun, kondisi ini ternyata tidak berlaku untuk semua orang.

Bagi mereka yang dioperasi caesar, sebanyak 51% masih merasakan nyeri. Sementara sebanyak 35% yang melahirkan ‘normal’ juga masih merasakan nyeri.

Lama kehamilan ternyata juga berpengaruh. Sebanyak 77% ibu yang melahirkan bayinya secara prematur masih merasakan nyeri haid.

Jadi, kesimpulannya melahirkan memang menghilangkan nyeri haid bagi sebagian perempuan, tapi tidak bagi semua perempuan.

Ilmuwan berspekulasi bahwa kelahiran normal lebih efektif mengurangi nyeri karena luka di bagian pelvis merusak saraf perasa yang terhubung dengan uterus dan otak, sehingga nyeri tak lagi terasa.

Peneliti mengungkapkan bahwa mereka yang melahirkan secara ‘normal’ tetapi tetap mengalami nyeri haid kemungkinan mengalami endometriosis.

Namun, sebuah asosiasi gen pada 2016 lalu menyebut bahwa faktor genetik ternyata berpengaruh pada haid.

Ini berarti, jika nyeri haid Anda perih sekali dan tidak hilang-hilang setelah melahirkan, kemungkinan itu karena faktor genetika Anda.

Jangan naik pesawat

Maskapai penerbangan melarang perempuan di penghujung kehamilan untuk terbang, bukan karena terbang bisa mengganggu janin, tetapi karena maskapai tidak menginginkan si calon ibu melahirkan bayinya di pesawat.

Sementara pada kehamilan usia muda, para ilmuwan menjadikan pramugari sebagai objek penelitian, bukan penumpang.

Sebuah studi di Finlandia pada tahun 1999 memperlihatkan hasil yang menarik. Berdasarkan data pada 1978 hingga 1994 terdapat sedikit peningkatan jumlah pramugari yang keguguran.

Namun, mereka yang terbang di antara tahun 1973 dan 1977, lebih sedikit yang keguguran.

Bahkan pada tahun-tahun belakangan ini, meskipun risiko keguguran pramugari tetap tidak kecil, masih belum diketahui pasti apakah penyebabnya adalah karena mereka terbang atau karena beban pekerjaan.

Dan memang, ketika dibandingkan data pramugari dengan data guru pada 2015, jumlah guru yang keguguran ternyata lebih banyak.

Ketika peneliti mengumpulkan data dua juta penerbangan yang ditempuh 673 pramugari dan mendalami pola jadwal kerjanya, mereka menemukan bahwa pramugari yang jam tidurnya kerap terganggu atau berubah, punya risiko keguguran lebih tinggi dibandingkan yang memiliki jadwal kerja lebih teratur.

Jadi, ternyata bukan aktivitas terbangnya sendiri yang jadi masalah, tetapi gangguan terhadap siklus alami tubuh yang menimbulkan gangguan pada kehamilan.

Dan tentu, mayoritas perempuan tidak terbang sesering para pramugari. Alhasil, naik pesawat dan terbang adalah hal yang aman dilakukan oleh semua orang, termasuk ibu hamil.

Meskipun begitu, pada 2002, Asosiasi Dokter Kandungan Amerika mengatakan bahwa perempuan hamil yang memiliki tekanan darah tinggi dan diabetes, disarankan untuk menemui dokter sebelum terbang.

Jika diperbolehkan terbang, mereka juga diminta untuk berjalan secara teratur di pesawat dan rajin minum air untuk mengurangi risiko kerusakan trombosis atau pembekuan darah atau pembuluh darah tersumbat.

Namun, sekali lagi asosiasi menegaskan bahwa tidak ada bukti bahwa terbang bisa mengakibatkan keguguran atau kelahiran prematur.

Kesimpulannya, beberapa nasihat yang kerap didengar perempuan saat mereka hamil ternyata tidak benar, tidak punya bukti ilmiah.

Jadi, jika Anda hamil, akan lebih baik jika Anda tidak makan berlebihan. Silakan terbang, jika perlu, tanpa berpikir bahwa Anda akan tiba-tiba keguguran, dan harus selalu ingat, setelah melahirkan belum tentu nyeri haid Anda akan hilang.(bbc/rur)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Mitos-mitos Seputar Kehamilan"