Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Miris, Bocah Ini Rela Jualan Kerupuk Demi Ibu dan Adiknya

04 Dec 2017 // 16:17 // HEADLINE, KAWAN KITA

images (6)

GARUT (suarakawan.com) – Sutrisno alias Fadil memutuskan tak lagi sekolah. Bocah berusia tiga belas tahun itu harus menghidupi ibu dan adik balitanya dengan berjualan kerupuk di kampungnya di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Pilihan yang dijalani Fadil tak mudah. Dia menjajakan kerupuk dagangannya dengan berjalan hingga belasan kilometer. Hasilnya bahkan cuma Rp15.000 per hari, itu pun kalau kerupuk-kerupuknya laku semua.

Fadil menjual kerupuknya seharga Rp5.000 dan mengambil untung cuma Rp500 per bungkus. Dia biasanya membawa 30 bungkus tiap hari. Jadi, kalau laku semua, dia mengantongi Rp15.000 per hari.

Sayangnya dia tak selalu mujur. Tak jarang dia pulang ke rumah dengan beberapa bungkus sisa kerupuk di tangan. Kalau sudah begitu, dia mesti mampir-mampir mencari barang rongsokan untuk dijual kepada pengepul rongsokan. Pokoknya dia harus pulang dengan membawa sedikitnya Rp15.000.

Rumah Fadil dan ibu serta adiknya tinggal sebenarnya tak tepat disebut rumah, melainkan hanya sebuah gubuk di kawasan persawahan Kampung Sinyar, Desa Kadungora, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Gubuk reyot berukuran dua meter persegi itu nyaris terbuka sepenuhnya.

Tak ada pilihan tempat tinggal lain bagi Fadil dan ibunya Heni Rohaeni (36 tahun) dan adiknya Nurlaela Jamilah (tiga tahun). Sejak ayahnya meninggal dunia beberapa tahun silam, Fadil dan ibu serta anaknya mesti hidup serba kekurangan.

“Jujur saja saya rindu bertemu ayah, namun sayang beliau sudah meninggal saat saya masih kecil,” kata Fadil, menitikkan air mata, ketika ditemui di gubuknya pada Senin, 4 Desember 2017.

Dia tak menjawab lugas ketika ditanya keinginannya untuk bersekolah lagi, andai ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten. “Kalau itu, saya tidak tahu,” ujarnya sembari tersenyum. (viv/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini