Migrant Insititute:Hukum Di Arab Saudi Tak Kenal Sebab Akibat

TKI (dok)

SURABAYA (suarakawan.com) – Migrasi tidak bisa dibendung, sudah menjadi hukum alam bahwa di mana ada makanan maka di situ pula makhluk hidup akan berkumpul.

Ketika menyadari bahwa negeri ini sudah tidak lagi menjanjikan lapangan pekerjaan yang layak untuk warganya maka sebagian dari mereka yang umumnya adalah warga miskin memilih untuk bermigrasi keluar negeri meski mereka harus berhadapan dengan resiko yang sangat besar bahkan harus bertaruh nyawa sekalipun.

Perempuan, yang umumnya mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga sangat rentan sekali terhadap resiko pelecehan seksual bahkan sampai tindakan  perkosaan, lingkup kerja mereka yang ada di dalam rumah akan membuat mereka kesulitan untuk meminta tolong saat mereka mengalami tindakan kekerasan, pelecehan seksual bahkan perkosaan.

Kepulangan Darsem, TKI asal Subang Jawa Barat yang sudah dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan membunuh teman majikannya, warga negara Yaman yang hendak memperkosanya. Keluarga korban akhirnya memaafkan  tapi Darsem diharuskan  membayar diyat (denda ) yang cukup tinggi yakni 4,7 milyar Rupiah.

“Hendaknya dijadikan pelajaran bagi pemerintah RI  juga kita semua bahwa hukum di Arab Saudi tidak mengenal hukum sebab akibat. Membunuh ya hukumannya hukuman mati,” ungkap Suprapti Husein, Migrant Institute dalam rilisnya yang dikirim melalui email ke suarakawan.com, Jum’at siang (15/07).

Suprapti melanjutkan latar belakang atau penyebab terjadinya pembunuhan tidak pernah jadi bahan pertimbangan di persidangan untuk memperingan hukuman.

“Posisi terhukum yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dianggap rendah oleh hukum di Arab Saudi sehingga pembelaan yang dilakukan hampir selalu diabaikan,” imbuhnya.

Terhukum, lanjut dia yang diposisikan rendah inilah yang akhirnya menimbulkan ketidakadilan dalam penentuan hukuman yang harus dijalaninya.

Saat vonis sudah dijatuhkan maka akan sangat sulit sekali bagi terhukum untuk bebas, satu-satunya cara hanyalah meminta pemaafan dari keluarga korban.

Diyat (denda) yang harus dibayarkan sebagai kompensasi dari maaf yang diberikan oleh keluarga korban kadang jumlahnya tidak rasional dan tidak mengenal latar belakang terhukum, apakah dia berasal dari keluarga mampu ataukah dari keluarga miskin. (Jto/nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Migrant Insititute:Hukum Di Arab Saudi Tak Kenal Sebab Akibat"