Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Meraba-raba Jalan, Pria Tunanetra Ini Jajakan Kerupuk

19 Dec 2016 // 07:10 // HEADLINE, KAWAN KITA

images

JAKARTA (suarakawan.com) – Sebuah kayu sepanjang 1,5 meter dipikul Yanto. Di kedua ujungnya terikat belasan bungkus kerupuk berbagai jenis. Tangan kanannya memegang tongkat meraba-raba jalan yang dilaluinya. Dengan mantap Yanto berjalan sambil berteriak, “Kerupuk…. kerupuk…!”

Meski tak bisa melihat alias tunanetra, Yanto tak kesulitan menjajakan kerupuk Bangka dan kerupuk Palembang. Saat ditemui di dekat Kompleks Pondok Duta, Depok, Yanto mengaku sudah hafal jalan di sekitar perumahan itu. Jalan yang dilaluinya pun selalu sama.

Awalnya, butuh sekitar satu bulan bagi Yanto (40) untuk mengingat jalan yang dilaluinya. Jika dia tersesat atau lupa jalan, dia akan bertanya kepada siapa saja terutama tukang ojek.

“Kalau lupa jalan, paling saya cari tukang ojek dan minta diantarkan pulang,” kata Yanto yang tinggal di kawasan Kelapa Dua, Depok.

Yanto menuturkan, dia berdagang sejak setahun lalu. Sempat menjadi tukang pijat keliling, dia merasa, penghasilannya minim untuk membiayai istri dan dua anaknya.

“Anak saya sekolah SD dua-duanya. Istri juga tunanetra,” ujarnya.

Awalnya dia ragu berdagang kerupuk. Namun mendengar cerita dari beberapa temannya, Yanto akhirnya memberanikan diri dengan mengeluarkan modal awal Rp 200 ribu dia mendapat kerupuk yang sudah dikemas dalam beberapa ukuran dan siap dijual. Bungkus kecil Rp 7.000 sedangkan bungkus besar dari Rp 10.000 sampai Rp 15.000.

“Alhamdulillah tiap hari laku minimal 10 bungkus. Banyak juga yang beli enggak mau dikasih kembalian. Mungkin mereka kasihan sama saya, tapi sebenarnya saya enggak mau dikasihani,” tuturnya.

Cerita serupa disampaikan Mariyono, tunanetra yang juga berjualan kerupuk. Kerupuk yang dijualnya berasal dari pabrik di Tangerang.

“Ada pabrik kerupuk besar di Tangerang namanya Purnama, saya beli dari sana,” ujar Mariyono (40) saat ditemui merdeka.com, pekan lalu di kediamannya di Depok Timur, Depok.

Pria asal Kebumen itu tidak tahu persis sejak kapan banyak penyandang tunanetra beralih menjadi penjual kerupuk keliling.

“Saya juga diajak teman,” tukasnya.

Mariyono bercerita dirinya mengalami kebutaan sejak umur 2 tahun, tanpa diketahui penyebab pastinya. “Saya cuma lihat sinar doang,” katanya.

“Saya ke Jakarta tahun 2000-an ikut teman yang udah di Jakarta Barat lebih dulu jadi tukang pijat, makin lama makin ke sini jasa kita udah kurang laku banyak tempat-tempat pijat yang lebih nyaman mungkin atau lebih profesional keliatannya. Sekitar tahun 2012 saya diceritain sama teman saya yang jualan kerupuk juga, saya penasaran saya pengen ikut jualan kerupuk juga daripada ngamen, atau ngemis, saya lebih merasa bermanfaat sebagai manusia jika saya ada usaha,” ceritanya.

“Saya juga enggak tahu teman saya dapet darimana beli kerupuk dari pabrik itu, lalu saya dikasih tahu nomor telepon orang yang ada di pabrik itu saya pengen beli kerupuk. Awal beli kerupuk dari sana saya beli 60 bungkus,” ujarnya.

Modal yang dikeluarkan bapak 3 orang anak itu sebesar Rp 250 ribu, itupun modal berdua dengan temannya sesama penyandang tunanetra.

“Saya masih belum punya modal waktu itu, makanya saya sama teman saya patungan buat modal beli kerupuk,” imbuhnya.

Bukan usaha namanya jika tidak mengalami kendala, perjalanan awal Mariyono dalam menjual kerupuk pun tidak mudah.

Sambil mengenang tahap awal dia berjualan kerupuk, Mariyono bercerita dia pernah kesasar karena belum hafal benar jalan.

“Pernah saya kesasar, sempet bingung jalan pulang tapi yah nanya nanya sama orang orang sekitar akhirnya bisa pulang, tapi saya enggak kapok justru saya malah kembali ke jalan itu biar hafal,” ungkapnya.

Belum lagi jika dia harus menyeberang jalan yang ramai. “Tapi saya enggak sampai keserempet,” ucapnya sambil tertawa ringan.

Seperti pepatah yang mengatakan hidup bagaikan roda berputar, ada kalanya di atas ada masanya pula di bawah. Begitu pula yang dirasakan Mariyono, awal dia berjualan kerupuk masa pahit dia hadapi. Dua tahun berjalan dewi fortuna berada di pihaknya, dulu dia hanya sanggup membeli kerupuk 60 bungkus, dia bersama rekannya memborong 500 bungkus pernah juga 1.000 bungkus. Modal Rp 250 ribu pun merangkak naik menjadi Rp 7 hingga 8 juta.

“Modal awal Rp 250 ribu Alhamdulillah udah sampai Rp 7 sampai 8 juta,” tuturnya.

Tanpa mau disebut meraup untung dengan memanfaatkan keterbatasannya itu Mariyono menilai banyaknya pembeli karena kerupuk cocok untuk berbagai macam kalangan dan pendamping makanan. “Siapa yang enggak suka kerupuk, apalagi kerupuk ikan kan,” celotehnya.

Tiap kali dia berjualan kerupuk selalu ludes terjual, saking banyaknya kerupuk yang dijajaki Mariyono sampai menggunakan gerobak kecil karena tak sanggup memikul ratusan kerupuk.

Mariyono rupanya punya bakat berbisnis. Kini dia sudah tidak lagi berkeliling jualan kerupuk, dan beralih menjadi pemasok kerupuk ke temannya sesama tunanetra. Sudah ada 5 orang yang menjadi ‘cabangnya’ berjualan.

“Saya udah enggak jualan keliling lagi sekarang nge-drop ke lima orang. Sesama tunanetra,” tuturnya. (mer/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini