Mengenal Kiprah KH Abdullah bin Nuh

Tidak ada komentar 6 views

JAKARTA – Ada seorang ulama besar asal Bogor, yang mungkin kurang dikenal secara nasional, yaitu KH Abdullah bin Nuh. Karena kebesaran namanya pula, nama beliau diabadikan sebagai nama salah satu jalan di Kota Bogor, juga Cianjur. Secara kebetulan di Jalan Abdullah bin Nuh di Kota Bogor, berdiri bagunan Gereja GKI Taman Yasmin, yang beberapa bulan terakhir ini menjadi berita utama di media massa. Bahkan ada pihak yang mengklaim, Gereja GKI Taman Yasmin tidak boleh berdiri, karena berada di Jalan Abdullah bin Nuh.

Soal figur dan kiprah KH Abdullah bin Nuh inilah, yang menjadi topik bahasan program Agama dan Masyarakat, yang diselenggarakan KBR68H. Perbincangan kali ini mengundang dua narasumber, masing-masing adalah KH Mustafa bin Abdullah bin Nuh (putera bungsu dari KH Abdullah bin Nuh), dan Imdadun Rahmat (Wakil Sekjen PBNU, peneliti pemikiran KH Abdullah bin Nuh).

KH Mustafa bin Abdullah bin Nuh sendiri membantah, jika ayahandanya dikaitkan dengan penolakan sekelompok orang terhadap pembangunan gereja Taman Yasmin. Karakter dan jejak pemikiran Bin Nuh sangat tidak sejalan dengan intoleransi terhadap pembangunan gereja. Ada begitu banyak jalan yang menggunakan nama tokoh agama tertentu, dan di situ ada rumah ibadah agama lain. Mustafa memberi contoh pada sepenggal jalan di Jakarta, seperti Jalan KH. Wahid Hasyim, yang juga berdiri gereja, kemudiandi sudut lain berdiri masjid. Atau Jalan Sisinga Mangaraja di kawasan Kebayoran Baru, di mana terdapat Masjid Al Azhar yang megah.

Imdadun Rahmat sependapat, bagi Abdullah bin Nuh, ketika perjuangan keislaman itu ternyata membahayakan komitmen atau konsensus yang dibangun oleh bangsa ini, maka dia akan segera berhenti untuk kemudian mengedepankan kepentingan-kepentingan bersama. Imdadun melanjutkan, KH. Abdullah bin Nuh adalah sosok yang sangat toleran, kita bisa lihat rekam jejak beliau sebagai seorang negarawan yang bisabekerjasama dengan siapa saja. Dalam kegitatan di bidang pendidikan dan dakwah, beliau bisa menjalankan aktivitas tanpa beban dengan berbagai golongan, baik itu sesama muslim maupun dengan non-muslim.

Baik Mustafa maupun Imdadun menyebutkan, salah satu periode penting dalam perjuangan KH Abdullah, adalah saat beliau ikut hijrah ke Yogyakarta di masa Perang Kemerdekaan dulu. Di Yogyakarta inilah bersama sejumlah tokoh nasional ia memprakarsai pendirian Sekolah Tinggi Islam yang kini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII). Di kota ini pula ia mengembangkan siaran berbahasa Arab Radio Republik Indonesia (RRI). RRI seksi Arab, memiliki peranan besar dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Dari seksi bahasa Arab inilah berita mengenai kemerdekaan RI tersiar ke manca negara, terutama ke negara-negara Arab. Bukan kebetulan bahwa negara paling awal yang memberi pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia adalah Mesir, kemudian disusul negara Arab lainnya.

KH Abdullah Nuh lahir di Cianjur pada tanggal 30 Juni 1905, dan wafat pada tahun 1987 di Bogor. Meski memiliki posisi keagamaan yang istimewa di tengah umat Islam, KH Abdullah sama sekali tidak tertarik untuk melibatkan diri dalam gerakan Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII). Padahal basis utama gerakan ini adalah Jawa Barat, daerah yang juga menjadi basis gerakan dakwah KH Abdullah bin Nuh.

“Artikel ini sebelumnya disiarkan di program Agama dan Masyarakat KBR68H. Simak siarannya di 89, 2 FM Green Radio, setiap Rabu, pukul 20.00-21.00 WIB”

 

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Mengenal Kiprah KH Abdullah bin Nuh"