Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Memprihatinkan, Obesitas pada Anak Naik 10 Kali Lipat

13 Oct 2017 // 13:30 // HEADLINE, KESEHATAN

obesitas1

PARIS (suarakawan.com) – Hasil studi yang dimuat dalam jurnal kesehatan The Lancet pada Selasa (10/10) waktu setempat menyebutkan bahwa dunia sedang mengalami kenaikan jumlah anak dan remaja penderita obesitas 10 kali lebih banyak pada tahun lalu, dibandingkan 1975. Namun, jumlah anak-anak yang memiliki berat badan rendah atau kurus ternyata masih lebih banyak.

Dalam jurnal juga disebutkan soal peringatan mengenai beban ganda dari gizi buruk. Para periset mengatakan tingkat kenaikan anak-anak obesitas jauh melampaui penurunan anak-anak yang kekurangan gizi.

“Jika tren pasca-2000 terus berlanjut maka obesitas yang dialami anak-anak dan remaja diperkirakan melampaui jumlah mereka yang memiliki berat badan sedang dan berat badan yang sangat kurang pada 2022,” tulis para periset dalam jurnal kesehatan itu.

Berdasarkan riset, tim menemukan ada 74 juta anak laki-laki obesitas yang berusia 5-19 tahun di 2016, di mana jumlahnya meningkat 6 juta dari 40 tahun lalu. Sedangkan untuk anak perempuan, angkanya membengkak dari 5 juta menjadi 50 juta.

Sebagai perbandingan, ada 117 juta anak laki-laki dengan berat badan rendah dan 75 juta anak perempuan dengan berat badan rendah di tahun lalu, setelah jumlahnya sempat mencapai puncaknya sekitar 2000. Demikian laporan studi itu.

Hasil studi juga melaporkan, di Asia Selatan, hampir dua per tiga anak-anak mengalami kekurangan gizi.

Kendati jumlah anak-anak yang menderita obesitas membengkak di setiap wilayah di dunia, namun jumlah anak-anak yang kekurangan gizi perlahan menurun di mana-mana, kecuali di Asia Selatan dan Asia Tenggara, sertra di Afrika Tengah, Afrika Timur, dan Afrika Barat.

Selama periode dilakukan studi, tingkat prevalensi anak-anak dengan berat badan kurang mengalami penurunan dari 9,2% menjadi 8,4% persen untuk anak perempuan usia 5-19 tahun, dan Untuk anak laki-laki angkanya turun dari 14,8% menjadi 12,4%.

Di kalangan anak perempuan jumlah penderita obesitas tumbuh dari 0,7% menjadi 5,6%, sementara penderita obesitas pada anak laki-laki tumbuh dari 0,9% menjadi 7,8%.

Sedangkan di Nauru, Kepulauan Cook dan Palau, terdapat lebih dari 30% anak-anak dan remaja yang mengalami obesitas pada 2016.

Kemudian di beberapa negara di Polinesia dan Mikronesia, Timur Tengah, Afrika Utara, Karibia dan Amerika Serikat (AS) ada lebih dari satu dari lima anak yang menderita obesitas.

Makanan Sehat Terjangkau

Untuk menentukan berat badan ideal, para ahli mengategorikan berat badan seseorang menggunakan rumusan indeks massa tubuh (body mass indeks/BMI). BMI didapat dengan cara membagi berat badan dengan tinggi badan. Hasil pengukuran tersebut memunculkan berbagai kategori berat badan, mulai dari berat badan kuran, normal, kelebihan berat badan, dan tiga kategori obesitas.

Bagi penderita obesitas akan memiliki risiko penyakit kronis seperti diabetes, sementara anak-anak yang kekurangan gizi lebih berisiko terkena penyakit menular.

Sedangkan bagi anak-anak yang masuk kategori keduanya bisa terhambat pertumbuhannya jika mereka tidak melakukan diet yang meliputi nutrisi sehat.

“Dibutuhkan kebijakan kebutuhan lanjutan untuk meningkatkan ketahanan pangan di negara-negara dan rumah tangga berpenghasilan rendah, terutama di Asia Selatan,” ujar penulis studi Majid Ezzati dari Imperial College London.

Tapi data kami, lanjut dia juga menunjukkan bahwa peralihan dari berat badan yang kurus menuju ke kelebihan berat badan dan obesitas dapat terjadi dengan cepat melalui dalam transisi gizi yang tidak sehat dengan meningkatnya makanan yang mengandung nutrisi dan energi buruk.

Tim riset menggunakan data tinggi dan berat badan dari 129 juta orang berusia lebih dari lima tahun untuk memperkirakan tren massa tubuh bagi 200 negara dari 1975 sampai 2016.

Sementara obesitas pada anak-anak dan remaja tampaknya meningkat di negara-negara makmur, kenaikannya pun berlanjut di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Demikian hasil riset yang mereka temukan.

“Sangat sedikit kebijakan dan program yang berusaha membuat makanan sehat seperti terbuat dari biji-bijian, buah-buahan dan sayuran segar yang terjangkau oleh keluarga miskin. Ketidakterjangkauan dalam memilih makanan sehat bagi orang miskin dapat menyebabkan ketidaksetaraan sosial pada obesitas, dan membatasi berapa banyak kita dapat mengurangi bebannya,” jelas Ezzati dalam pernyataan.(bs/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini