Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Meluruskan Logika Para Pembenci Ulama

22 May 2017 // 08:23 // OPINI, SUARA PEMBACA

By: K. H. Tengku Zulkifli Usman

Kalau para ustadz dan ulama itu mau hidup tenang, gak perlu repot-repot, pendapatan kami dari amplop hasil honor kami sudah cukup, ditambah ada usaha kecil alhamdulillah sudah cukup.

Gak perlu ambil resiko bela islam, contoh seperti Habib Rizieq, Ust Bachtiar Nasir, Al Kamal, dst, kalau mereka mau nyaman, honornya sudah cukup untuk membiayai kehidupan nyamannya setiap hari

Karena sesama dai, saya paham banyak tentang kehidupan para ustadz dan ulama, bahkan kita tau betul standar pendapatan hasil honor ceramah, seminar dll.

Kalau mau hidup tenang tenang saja sudah gak perlu mereka sibuk-sibuk ngurusin islam, apalagi yang beresiko tinggi masuk penjara, dikasuskan, dihina dst, bahkan Ust Al Khatthath sampai saat ini masih dipenjara.

Kadang demi islam dan dakwah, demi kegiatan amar makruf nahi mungkar lalu mereka memutuskan membela islam secara maksimal dengan apapun resikonya.

Kantongnya sendiri jadi saksi dan sering gak cukup, gaji dan penghasilannya jadi taruhan, bahkan keluarganya kadang mengalah untuk dakwah, bukan tugas ringan, apalagi di era rezim yang begini.

Kalau mau hidup nyaman, banyak ustadz yang punya pendidikan tinggi sampai S2 dan S3, bisa diterima dimanapun kalau hanya untuk mencari gaji bulanan dan sekedar buat makan.

Contoh seperti ust Bachtiar Nasir dan Habib Rizieq, kalau mereka mau apa saja fasilitas untuk penunjang dakwah, mereka bisa saja meminta bantuan muslim, pasti dibantu, tapi apa pernah mereka begitu?
Setau saya gak pernah sama sekali, kantong sendiri lagi yang dilirik.

Ust Alkhatthath dll, ust ust yang punya pergerakan, ust ust lapangan yang aktif berjuang dan selalu memantau perkembangan umat, ust ust vokal dan nonkompromistis, tentu mereka adalah incaran penguasa, dengan segala resikonya tapi mereka tetap berjuang.

Kadang dari status muzakki menjadi status mustahik, emang ada beasiswa di dakwah ini, emang ada santunan rutin, emang ada chariti bulanan, gak ada, mereka all out untuk umat, karena mereka sadar musuh semakin berat, sedangkan umat kita awam tanpa ulama.

Sekelas mereka yang punya massa banyak dan pengikut ribuan, kalau mau nyaman, bukankah mereka bisa memilih jadi caleg ke Senayan, bisa duduk tenang sambil wa an, sambil bbm an, massa mereka banyak, apa susahnya mereka dapat suara 50ribu untuk kursi senayan DPR RI, apakah mereka begitu?

Kalau difitnah wanita, emang ada wanita yang menolak menikah dengan Habib Rizieq atau Ust Bachtiar Nasir atau ust ust lain di tingkat nasional? Apakah poligami bagi mereka sulit? Kenapa harus chatting dengan yang gak jelas, apalagi sudah ada mubahalah, kenapa masih keder, itu semua karena awam gak ketulungan dari mereka yang suka benci ulama

Saat diundang keluar kota untuk ceramah, apakah pernah kami menentukan tarif ceramah seperti ust ust selebritis itu? Yang kalau gak deal ya gak mau datang, kadang sering kami bilang, gak usah bayar, yang penting transportasi saja, begitu saya menyaksikan langsung dengan mata dan telinga, padahal kalau mau menentukan tarif, bisa saja tinggal jawab,toh sudah ditanya.

Kadang saat berada diluar kota, dapat panggilan ceramah lagi ke ibukota, saya sendiri sering dapat undangan begitu, gak enak menolak kecuali sangat darurat, padahal kami tau, honor ceramah itu buat gantikan tiket pesawat saja gak cukup, tapi mereka jarang mengatakan saya diluar kota agar tiket pesawatnya ditanggung panitia, sekali lagi semua dikorbankan.

Jadi, kenapa benci mereka, dasarnya apa? Dalilnya apa? Taukah kamu? berdasarkan survei, jika tidak ada kasus ahok, gak ada aksi besar bela islam kemarin, gak ada GNPF MUI, gak ada Habib Rizieq dll sebagi inisiator, jika itu semua gak ada, maka semua program dan rencana mereka akan mulus tanpa kendala, termasuk meloloskan Ahok ke istana dan menguatkan lagi posisi Jokowi kedepannya.

Kalau gak ada momentum itu, gak ada aksi massa, gak ada inisiatif dari ulama yang vokal itu, partai islam mau dibabat habis di 2019, PKS bisa apa? PPP dan PKB memang sudah bersama mereka, ini realita, justru dengan adanya mometum ini, partai islam kembali lagi rasa pede nya, kembali lagi ruh nya.

Jadi, kalau demi mencari kenyamanan pribadi,dan bukan dakwah, ust ust itu bisa memilih aman, diam saja, nanti pasti dapat jabatan dari pemerintah, baik pemerintah propinsi DKI atau pemerintah pusat, kalau mau diam saja dan kerjasama sama penguasa, kursi empuk menanti mereka para ulama, apalagi yang jelas jelas bela penguasa lalu memilih menyerang balik sesama ulama, ulama plat merah, makin aman hidup mereka bukan?

Gak perlu mereka capek-capek, kena kasus, punya banyak hutang, gak perlu susah suah, 5 tahunan ada pemilu, partai mana yang berani menolak mencalonkan Habib Rizieq, Ustadz Bachtiar Nasir, Ust Arifin Ilham, Aa Gym dst sebagai caleg ke senayan? Saya kira gak ada.

Apalagi hanya sekedar masalah wanita yang saat ini jumlah mereka lebih banyak, banyak juga yang sholehah, gak akan menolak menikah dengan ulama, jadi gak masuk akal memaksakan kasus chat wa dan bbm, abal-abal itu namanya.

Mereka terus berjuang, gak ada publikasi, apakah saat Ahok kalah dan masul penjara, Habib Rizieq jadi kepala dinas, jadi kepala bagian proyek ini itu? Apakah mereka dapat jabatan dan uang? Dapat apa ? Gak ada, karena para ulama berjuang bukan untuk itu semua

Semoga kita lebih paham mana yang benar dan semakin paham cara berpikir yang logis dan berhenti memaksakan kehendak terhadap ulama atas dasar kebencian, agat wakil rakyat di Senayan pun jangan hanya diam melihat dagelan ini semua.

Ada saham ulama dan umat pada kursi kalian, jangan merasa terpilih dengan sendirinya dan jumawa, lalu cuek bebek dengan semua masalah ulama, kriminalisasi, politisasi, dan berbagai macam pertunjukan murahan lainnya hasil dari hukum amburadul dan pesanan.

Wallahu alam.

Nabi SAW bersabda : “Hendaknya kamu semua memuliakan para ulama, karena mereka itu adalah pewaris para Nabi, maka barangsiapa memuliakan mereka berarti memuliakan Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Al Khatib Al Baghdadi dari Jabir ra., Kitab Tanqihul Qaul)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini