Media Online "suarakawan.com" mengutamakan profesional, integritas, keberagaman serta menyajikan dan melayani kepuasan pembacanya maupun kepercayaan|| Mahal Itu Pilihan! Berarti Berkualitas & Puas || Semangat dalam menjalankan tugas merupakan ciri khas karakter bangsa indonesia yang mau berjuang & bekerja keras dari berbagai aspek kehidupan terutama dalam menjaga keutuhan negara dan rakyat Indonesia. Mari menyongsong dan menatap hari esok dengan menjalankan amanat cikal bakal negara RI serta Rakyat Indonesia atas Pancasila & UUD 1945 Asli & Sungguh2 Bukan Selalu Menjadi Penindasan kepada Rakyat...|| Suarakawan.com memberikan kemudahan & pelayanan buat pembaca dari berbagai lapisan dengan bahasa di seluruh dunia.||

Masyarakat Maritim Minta Hadi Prasetyo Ikut Maju Pilgub Jatim

25 Jul 2017 // 21:49 // HEADLINE, PILKADA

pilkada

SURABAYA (suarakawan.com) – Masyarakat maritim di Jawa Timur mendorong mantan asisten II Pemprov Jatim Hadi Prasetyo “turun gunung” meramaikan bursa Pilgub Jawa Timur, yang sebagian besar kini hanya di isi calon partai politik dan tokoh bisnis.

“Jatim butuh seorang profesional seorang konseptor pembangunan dan ekonomi Jatim ke depan,” kata Ketua Forum Masyarakat Maritim, Kelautan dan Perikanan Jatim Oki Lukito di Surabaya, Selasa (25/7).

Dari pandangan Oki, tokoh yang muncul sekarang banyak yang dari politikus, ada Wagub Saifullah Yusuf, Mensos Khofifah Indarparawansa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, kemudian pengusaha Ketua Kadin La Nyalamatliti. Demikian pula dengan Wagubnya juga banyak dari kalangan Politik, Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Kusnadi PDIP, Kanang juga dari PDIP.

Sementara dari kalangan profesional belum ada yang muncul, padahal persoalan Jatim ke depan adalah bagaimana mempertahankan pertumbuhan ekono Jatim tetap pada tracknya. Oki melihat ososk Hadi Prast yang selama ini berdiam diri sudah saatnya untuk tampil ke permukaan. Minimal ikut masuk dalam bursa Cawagub yang bisa ditandemkan ke semua calon, apakah Gus Ipul, Khofifah atau Risma.

“Para calon semua populer, namun mereka  perlu didampingi tokoh profesional sehingga ada yang mengolah pemerintahan dari dua sisi, yakni kepopuleran dan profesional,” ujarnya.

Jatim secara ekonomi memang sudah bagus, namun sejak ekonomi Indonesia tidak stabil, Jatim juga terimbas. Apalagi pengangguran usia produktif juga menumpuk.

Dijelaskan, Indonesia dan jatim mendapat berkah bonus demografi  pada periode 2018-2030an yg ditandai dengan melimpah ruahnya jumlah penduduk angkatan kerja produktif.  “Ini bisa jadi berkah tapi bisa jadi musibah bila angkatan kerja produktif yg berlimpah hingga jutaan jumlahnya tidak bisa diserap oleh perkembangan ekonomi yg memadai khususnya dlm hal penyediaan lapangan/kesempatan kerja. Sektor maritim kelautan dan agraris menjadi sektor yg bagus untuk bisa mengatasi hal,” katanya.

Bila dampak bonus demografi tidak  terkelola dengan baik dan tepat, ini bisa jadi efek domino yg mengerikan, bisa meledak angka pengangguran dan kesenjangan ekonomi sosial yg melebar. Juga kemiskinan bisa makin dalam dan parah.

Perekonomian sekarang ini  berat dan masih makin berat dalam lima tahun mendatang. Beberapa indikator ekonomi menunjukkan penurunan. “Sektor retail menurun, industri menurun, bahkan sektor properti menurun hingga 60%. Bisa dibayangkan betapa tantangan 2018 dan kedepannya sangat berat. Tidak cukup hanya dengangpendekatan sosial tetapi juga ekonomi yang tajam dan solutif,” katanya.

Bagi Gubernur terpilih nanti, PR ini sangat berat. Karena itu, katanya, dibutuhkan Jatim sosok konseptor pembangunan yang memiliki keahlian untuk bisa mengangkat perekonomian Jatim lebih maju. “Saya yakin Pak Hadi sangat mumpuni untuk disandingkan dengan para calon sebagai Cawagub. Kemampuannya jangan diragukan,” kata Oki Lukito.

Konsep konsep pembangunan di Pemprov Jatim juga sebagian besar pemikiran Hadi Prast. Bila ini dituangkan dan dijabarkan saat dia masuk dalam Bursa Cawagub nanti, hasilnya akan maksimal. Apalagi sekarang sejumlah parpol masih membuka peluang untuk mendaftar, seperti Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Gerindra dan Partai NasDem.

Para rokoh elit partai2 harus melihat dan mempertimbangkan ini. Bukan sekedar menang kalah dalam pilkada, bukan soal bagi bagi kekuasaan tetapi benar benar soal beban berat masyarakat sosial maupun ekonomi. “Bila partai politik ingin diangap partai yang membela rakyat, maka gabungan antara politikus dan profesional sangat dibutuhkan,” ujarnya. (aca/rur)

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar Anda


  • Terkini