Maksimalisasi Teknologi Seluler Untuk Penyelamatan Lingkungan

Blackberry

SURABAYA (suarakawan.com) – Perkembangan teknologi yang dewasa ini demikian pesat ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi memberikan keuntungan, namun disatu sisi juga memberikan kerugian bagi umat manusia.

Proses pembalakan liar adalah salah satu contohnya. Dahulu, dengan teknologi yang terbatas, manusia hanya mampu menebang pohon dengan ukuran terbatas karena alat yang tersedia hanyalah gergaji manual. Demikian pula alat transportasi yang terbatas membuat pembalakan liar seolah tak berarti.

Namun seiring dengan perkembangan teknologi, pembalakan liar menjadi begitu masiv. Dengan peralatan gergaji mesin dan alat berat lain seperti buldozer, alat angkut truk berkapasitas besar, tercatat hutan seluas dua kali lapangan bola hilang hanya dalam waktu satu menit diseluruh dunia !

Salah satu penyebab pembalakan liar adalah kebutuhan akan kertas yang cukup tinggi. Hampir semua aktivitas manusia tak bisa lepas dari kertas. Mulai dari menulis, mencatat pelajaran disekolah dalam buku, membuat laporan, mengirim memo dari atasan kepada bawahan hingga membuat rilis untuk dibagikan kepada wartawan dalam jumpa pers.

Di tahun 2006, konsumsi kertas bangsa Indonesia mencapai  5,96 juta ton. Menurut Rainforest Information Center, sebanyak 10 – 17 pohon yang harus ditebang untuk menghasilkan satu ton kertas ukuran koran (atau 8 lembar ukuran kertas A4). Satu ton tersebut cukup untuk mencetak sekitar 7.000 eksemplar koran.

Namun, siapa sangka pula dengan kemajuan teknologi, terutama teknologi selular dan Teknologi Informasi, konsumsi akan kertas bisa terkurangi. Muaranya, jumlah penebangan pohon akan berkurang.

Salah satu buktinya adalah berkurangnya jumlah kartu ucapan yang beredar saat menjelang Hari raya. Jika dahulu orang mengucapkan selamat ulang tahun, selamat hari raya dan sebagainya dengan kartu ucapan yang nota bene terbuat dari pohon, sekarang masyarakat lebih memilih menggunakan sarana sms, mms dan kartu ucapan serta surat elektronik yang kian beragam di dunia maya.

Dengan hadirnya teknologi selular generasi kedua dan ketiga (GPRS dan 3G serta HSDPA) yang memungkinkan seseorang mengakses internet via ponsel, mampu membuat upaya penghematan kertas atau  paperless kian signifikan.

Terlebih dengan hadirnya layanan dan  handset black berry yang memungkinkan seseorang mengakses internet dan menerima serta mengirim email sebagaimana layaknya menerima sms. Berbagai perintah atau keputusan penting dari kantor pusat ke kantor cabang yang dahulu harus di kirim via fax atau nota, kini semua itu bisa dilakukan via email.

Tak hanya mampu menghemat pemakaian kertas, kehadiran teknologi tersebut juga mampu memberikan keuntungan dan kepraktisan serta kecepatan dalam proses negoisasi sebuah bisnis. Dengan blackbery, seorang pebisnis bisa berkomunikasi via email secara praktis dan real time. Negosisasi dan transaksi bisa terjadi sewaktu-waktu. Tak perlu menunggu jam kantor untuk membuka email di ruang kerja.

“Dalam satu bulan, Indosat mengkonsumsi 6000 rim kertas ukuran A4 per bulan atau setara 15 ton (perlembar kertas A4 setara 5gr) yang dibuat dari 150 pohon hingga 255 pohon,”ungkap M.S Sucahyo, eks Head of region East Java, Bali Nusra dalam sebuah kesempatan.

Jika separuh konsumsi kertas tersebut bisa dialihkan secara digital dan disampaikan melalui atachment via email, maka jumlah pohon yang bisa diselamatkan dalam setahun sebanyak  900 hingga 1530 pohon ! Bayangkan jika misalnya ada 100 perusahaan di Indonesia yang mau berhemat kertas dan memaksimalkan fasilitas yang dihadirkan Teknologi Selular dan Teknologi Informasi.

Tak hanya itu, dengan memanfaatkan perkawinan dunia seluler dan internet dalam Blackberry, banyak penghematan yang bisa didapat.”Kami sekarang suka chating melalui handphone yang pastinya lebih hemat daripada penggunaan SMS karena itu semua sudah termasuk biaya langganan internet perbulan,”ungkap eks Manager Management Service East Area XL, Martono.

Tak hanya itu, gerakan paperless juga merambah dunia penerbangan. Jika dahulu tiket berupa cetakan dalam kertas, sekarang seiring dengan perkembangan teknologi selular seperti booming Blackberry membuat  penumpang cukup menunjukkan tiket yang telah dipesan secara online  tanpa perlu dicetak.

” Tiket saya simpan dalam format PDF, lalu saya emailkan ke handheld BlackBerry (BB). Di pintu masuk, saya hanya menunjukkan layar BB Onyx kepada petugas. Eh… ternyata boleh masuk,” jelas pakar Seluler Herry SW.

Lebih lanjut Herry menceritakan, di check in counter, file PDF yang sudah di buka dan di zoom langsung di sodorkan kepada Ning Lucy, petugas yang melayani. Tanpa bertanya apa pun, ia langsung menyapukan jarinya di trackpad Onyx. Tak lama kemudian boarding pass telah siap.

“Asyik juga ya. Berarti lain waktu nggak perlu susah-sudah nge-print,” imbuh Koh Herry, sapaan akrabnya.

Dampak positif dari berkurangnya penebangan pohon akibat berkurangnya konsumsi kertas tentu saja akan sangat berkaitan dengan pemanasan global dan perubahan iklim yang dipicu oleh rusaknya alam.

Jadi, meski kelihatan sepele, upaya memaksimalkan teknologi selular dan teknologi informasi mampu berdampak besar bagi bumi yang merupakan titipan anak cucu kita. Go Paperless.(kjpl/nas)

Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Maksimalisasi Teknologi Seluler Untuk Penyelamatan Lingkungan"